Pajak Indonesia Naik, Kekhawatiran Intervensi Kebijakan China Meningkat - Koran Mandalika

Pajak Indonesia Naik, Kekhawatiran Intervensi Kebijakan China Meningkat

Rabu, 3 Desember 2025 - 08:49

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kenaikan beban pajak yang dirasakan masyarakat Indonesia mendapat sorotan dari Nusantara Institute for Fiscal & Geopolitical Studies (NIFGS), yang menilai tekanan fiskal pemerintah semakin terkait dengan ketergantungan ekonomi terhadap Tiongkok, mulai dari utang infrastruktur hingga dominasi industri dan banjir impor murah. Analis NIFGS, Firman Arifianto, mengaitkan kondisi ini dengan teori Ibn Khaldun bahwa negara dalam tekanan cenderung menaikkan pajak secara berlebihan dan membebani masyarakat. NIFGS memperingatkan bahwa situasi ini dapat berdampak pada stabilitas sosial–politik dan menyerukan reformasi struktural, termasuk peninjauan utang luar negeri dan penguatan industri nasional.

Solo – Kenaikan beban pajak yang dirasakan masyarakat dalam beberapa tahun terakhir kembali memunculkan perdebatan mengenai arah kebijakan fiskal Indonesia. Di tengah upaya pemerintah meningkatkan kapasitas penerimaan negara, sejumlah pakar menilai bahwa kebijakan pajak Indonesia kini berada pada titik yang mengkhawatirkan, terutama terkait pengaruh eksternal dari Tiongkok (China) dalam lanskap ekonomi nasional.

Dalam laporan analitis terbaru bertajuk “Perpajakan di Indonesia dan Relevansi Teori Fiskal Ibn Khaldun: Perspektif Kritis dan Implikasi Geopolitik”, penulis dan editor Firman Arifianto menegaskan bahwa dinamika ekonomi-politik Indonesia semakin menunjukkan pola ketergantungan yang signifikan terhadap modal dan investasi Tiongkok. Kondisi tersebut, menurutnya, memiliki implikasi langsung terhadap tekanan fiskal dan keputusan pemerintah menaikkan pajak yang kini banyak dirasakan masyarakat kelas menengah ke bawah.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Kenaikan pajak yang tidak wajar harus dilihat dalam konteks geopolitik dan ketergantungan ekonomi terhadap Tiongkok,” — Firman Arifianto, Editor & Analis Kebijakan Fiskal

Firman menjelaskan bahwa berdasarkan data lapangan dan kondisi makro ekonomi saat ini, terdapat gejala jelas bahwa beban fiskal Indonesia meningkat seiring meningkatnya eksposur utang bilateral, aliran investasi industri, serta operasi perusahaan-perusahaan besar asal Tiongkok di sektor strategis—mulai dari nikel, energi, hingga infrastruktur transportasi.

Baca Juga :  Dari Minus Ratusan Juta ke Gerakan Emak-Emak Tanpa Modal: Jalan Terjal Azhary Husni Membangun Haka Land

“Jika struktur ekonomi nasional rapuh dan terlalu bergantung pada modal asing, terutama Tiongkok, maka negara berada pada posisi tertekan. Dalam situasi seperti itu, kecenderungan pemerintah untuk menutup kekurangan anggaran dengan menaikkan pajak menjadi sangat tinggi,” ujarnya.

Pengaruh Ekonomi Tiongkok dan Dampaknya pada Pajak

Menurut analisis dalam laporan tersebut, sedikitnya terdapat empat kanal utama yang menyebabkan kebijakan pajak Indonesia menjadi semakin agresif dan cenderung membebani kelompok berpenghasilan rendah:

1.      Eksposur Utang Infrastruktur yang Tinggi

Proyek-proyek strategis berbasis pinjaman Tiongkok dinilai memiliki bunga dan klausul kontrak yang tidak transparan. Kewajiban pembayaran jangka panjang ini mempersempit ruang fiskal pemerintah.

2.      Ekstraksi Sumber Daya Alam

Operasi tambang yang dikuasai perusahaan Tiongkok juga disorot karena minim kontribusi pajak, penggunaan skema transfer pricing, serta kerusakan lingkungan yang justru memerlukan biaya negara untuk pemulihan.

3.      Dominasi Industri dan Tenaga Kerja Asing

Kawasan industri seperti Morowali dan Weda Bay disebut membuka lapangan kerja, namun sebagian besar nilai tambah dan keuntungan diekspor kembali ke luar negeri.

4.      Produk Impor Murah yang Menggerus Industri Lokal

Masuknya banjir barang impor China menekan UMKM dan industri nasional, menyebabkan basis pajak domestik melemah.

Ibn Khaldun: Pajak Tinggi adalah Tanda Negara Sedang Tertekan

Firman juga mengaitkan kondisi ini dengan teori fiskal Ibn Khaldun yang menyebutkan:Ketika negara tertekan dan kehilangan kemandirian, pajak akan dinaikkan secara berlebihan, dan beban tersebut pada akhirnya merusak produktivitas masyarakat.

Ia menegaskan bahwa Indonesia kini berada dalam pola yang serupa: pajak meningkat, namun beban tersebut justru jatuh pada kelompok rentan dan kelas menengah ke bawah—alih-alih pada konglomerasi besar yang diduga menikmati berbagai kelonggaran fiskal.

Alarm Serius bagi Stabilitas Sosial dan Politik

Baca Juga :  Jelang Periode Libur Sekolah, Jasa Marga Intensifkan Preservasi Rutin Jalan Tol untuk Tingkatkan Kelancaran, Keamanan dan Kenyamanan Perjalanan

Kenaikan pajak yang tidak moderat, menurut laporan tersebut, memiliki dampak tidak hanya pada ekonomi, tetapi juga pada:

·         Stabilitas sosial, karena beban biaya hidup meningkat.

·         Ketidakpuasan publik, terutama terkait ketimpangan kebijakan fiskal.

·         Kerentanan politik, ketika sektor strategis terlalu dipengaruhi kekuatan ekonomi asing.

Firman mengingatkan bahwa jika pola ini terus berlanjut, Indonesia berpotensi masuk ke fase “kemunduran fiskal” sebagaimana digambarkan Ibn Khaldun—di mana pajak yang berlebihan justru mematikan aktivitas ekonomi dan memperburuk kepercayaan publik.

Seruan untuk Reformasi dan Kedaulatan Fiskal

Sebagai penutup, Firman menyerukan perlunya langkah berani untuk mengurangi ketergantungan ekonomi pada Tiongkok serta memperbaiki tata kelola pajak nasional. Ia menekankan tiga agenda utama:

•         Mengembalikan kedaulatan fiskal Indonesia melalui peninjauan ulang kontrak dan utang luar negeri.

•         Mendistribusikan beban pajak secara adil, terutama kepada korporasi besar dan sektor ekstraktif.

•         Memperkuat industri nasional dan UMKM, agar basis pajak domestik tidak terus melemah.

“Tanpa reformasi struktural, Indonesia akan terus berada dalam lingkaran ketergantungan dan tekanan fiskal. Dampaknya sudah dirasakan hari ini oleh jutaan masyarakat berpenghasilan rendah yang terbebani pajak,” — Firman Arifianto

(Red.)

Tentang Nusantara Institute for Fiscal & Geopolitical Studies

Nusantara Institute for Fiscal & Geopolitical Studies (NIFGS) adalah lembaga riset independen yang fokus pada analisis kebijakan fiskal, dinamika ekonomi makro, dan isu-isu geopolitik yang mempengaruhi pembangunan nasional. NIFGS memproduksi kajian berbasis data, laporan strategis, serta rekomendasi kebijakan untuk meningkatkan transparansi, kedaulatan ekonomi, dan efektivitas tata kelola publik. Dengan pendekatan multidisipliner, NIFGS berkomitmen menjadi mitra strategis bagi pemerintah, akademisi, pelaku usaha, dan masyarakat sipil dalam memahami dampak ekonomi dan geopolitik terhadap Indonesia.
Press release ini juga sudah tayang di VRITIMES.

Berita Terkait

BRI BO Otista Peringati Hari Kesaktian Pancasila dengan Khidmat dan Penuh Semangat Kebangsaan
BRI BO Mangga Dua Peringati Hari Kesaktian Pancasila dengan Khidmat dan Penuh Semangat Kebangsaan
Bujet Skincare Bulanan: Cara Mengaturnya agar Tetap Sesuai Kemampuan
LBFest 2026 Dorong Brand Lokal Karya Entrepreneur Muda BINUS Naik Kelas
Zyrex Jadi Merek Indonesia Pertama yang Meluncurkan AI Mini Workstation Berbasis AMD Ryzen AI Max+ 395
CX100 Danantara: Membenahi Layanan BUMN dari Pengalaman Masyarakat
Holding Perkebunan Nusantara Dorong Produktivitas Sawit Rakyat melalui Pembelajaran di Kebun Adolina
KAI Daop 2 Bandung Sampaikan Bahwa Keselamatan Perjalanan KA Butuh Peran Serta Masyarakat

Berita Terkait

Rabu, 7 Oktober 2026 - 07:02

BRI BO Otista Peringati Hari Kesaktian Pancasila dengan Khidmat dan Penuh Semangat Kebangsaan

Rabu, 7 Oktober 2026 - 06:02

BRI BO Mangga Dua Peringati Hari Kesaktian Pancasila dengan Khidmat dan Penuh Semangat Kebangsaan

Rabu, 7 Oktober 2026 - 00:02

Bujet Skincare Bulanan: Cara Mengaturnya agar Tetap Sesuai Kemampuan

Rabu, 7 Oktober 2026 - 00:02

LBFest 2026 Dorong Brand Lokal Karya Entrepreneur Muda BINUS Naik Kelas

Selasa, 6 Oktober 2026 - 21:02

CX100 Danantara: Membenahi Layanan BUMN dari Pengalaman Masyarakat

Selasa, 6 Oktober 2026 - 21:02

Holding Perkebunan Nusantara Dorong Produktivitas Sawit Rakyat melalui Pembelajaran di Kebun Adolina

Selasa, 6 Oktober 2026 - 19:02

KAI Daop 2 Bandung Sampaikan Bahwa Keselamatan Perjalanan KA Butuh Peran Serta Masyarakat

Selasa, 6 Oktober 2026 - 19:02

Zentara Melihat Perubahan Besar dalam Cara Perusahaan Mengelola Kerentanan Siber

Berita Terbaru