MotoGP Mandalika: Kerugian Perusahaan dan Dampak Ekonomi adalah Dua Hal Berbeda - Koran Mandalika

MotoGP Mandalika: Kerugian Perusahaan dan Dampak Ekonomi adalah Dua Hal Berbeda

Selasa, 13 Oktober 2026 - 10:44

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Dr. H. Ahsanul Khalik

Koran Mandalika, Mataram – Pernyataan Bapak Ali Bin Dachlan mengenai kerugian penyelenggaraan MotoGP Mandalika perlu dijawab dengan jernih. Kritik terhadap pengelolaan keuangan perusahaan merupakan bagian penting dari pengawasan publik. Namun, ketika pembahasan bergeser pada dampak ekonomi MotoGP secara keseluruhan, kita perlu menggunakan ukuran dan pendekatan yang berbeda.

Ada dua hal yang harus dibedakan secara tegas.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pertama, mengenai kerugian finansial perusahaan pengelola

Seperti pernyataan Bapak Ali BD, beliau mengatakan berdasarkan pemeriksaan BPK, kerugian finansial penyelenggaraan MotoGP dan World Superbike pada periode 2022–2024 tercatat sebesar Rp347,44 miliar, temuan tersebut harus dihormati dan menjadi bahan evaluasi serius.
Pengelolaan biaya, pendapatan, investasi, dan keberlanjutan usaha perusahaan harus dapat dipertanggungjawabkan.

Namun, angka tersebut harus dibaca sesuai periode dan ruang lingkup pemeriksaannya. Angka kerugian yang telah diperiksa untuk 2022–2024 perlu dibedakan dari perkiraan kerugian 2025–2026. Penjumlahan keduanya tidak serta-merta menjadi angka kerugian yang telah diaudit apabila belum ada hasil pemeriksaan yang mengonfirmasinya.

Tapi tentu dalam hal ini, Bapak Ali BD benar dalam mengingatkan pentingnya menghitung keuntungan dan kerugian perusahaan berdasarkan pendapatan serta biaya yang relevan. *Tetapi, ukuran tersebut menjawab pertanyaan tentang kinerja finansial perusahaan, bukan keseluruhan dampak ekonomi MotoGP terhadap masyarakat dan daerah.*

Kedua, mengenai dampak ekonomi MotoGP Mandalika

Baca Juga :  Pastikan Pelaksanaan Berjalan Baik, Abdul Hadi Tinjau Proyek P3TGAI di Lingsar

Di sinilah letak perbedaan mendasarnya. Dampak ekonomi bukanlah keuntungan bersih perusahaan. Dampak ekonomi mengukur aktivitas ekonomi yang berkaitan dengan penyelenggaraan suatu kegiatan, termasuk transaksi dan nilai tambah yang timbul pada sektor-sektor lain.

Ketika MotoGP berlangsung, aktivitas ekonomi tidak hanya terjadi di dalam sirkuit. Tetapi juga kita lihat bahwa hotel dan penginapan menerima tamu, restoran melayani pengunjung, transportasi mengangkut wisatawan, pedagang dan UMKM menjual produknya, serta tenaga kerja memperoleh penghasilan. Sebagian aktivitas tersebut berlangsung di luar pembukuan perusahaan pengelola sirkuit.

Karena itu, laporan laba-rugi perusahaan tidak dapat digunakan sendirian untuk menyimpulkan bahwa tidak ada dampak ekonomi bagi daerah. Sebaliknya, besarnya dampak ekonomi juga tidak boleh disebut sebagai keuntungan bersih perusahaan atau uang yang seluruhnya diterima masyarakat.

Kajian dampak ekonomi tentunya menjelaskan metodologi, cakupan wilayah, periode pengukuran, serta komponen dampak langsung, tidak langsung, dan lanjutan. Penghitungan juga harus memperhatikan nilai tambah, aktivitas yang benar-benar dipicu oleh penyelenggaraan acara, dan kemungkinan penghitungan ganda.

Pendekatan ini bukan sekadar pendapat untuk membela MotoGP. Dalam kajian yang diluncurkan beberapa waktu lalu oleh Bappenas mengatakan dampak ekonomi MotoGP Mandalika 2025 berada pada kisaran 4,7 triliun. Sementara itu, studi LETMI ITB yang dipublikasikan ITDC menyebut estimasi sebesar Rp4,96 triliun. Perbedaan hasil tersebut perlu dipahami berdasarkan cakupan dan metodologi masing-masing kajian, bukan dicampuradukkan sebagai angka yang otomatis setara.

Baca Juga :  Pemprov NTB Ajak Masyarakat Beri Dukungan kepada Sekda Baru

Adapun angka hampir Rp5 triliun untuk MotoGP 2026 masih merupakan estimasi, bukan hasil final pengukuran. Survei dan analisis tahun ini, sebagaimana informasi yang tersedia, sedang dilakukan oleh Tim BPS RI.

Oleh sebab itu, angka finalnya harus menunggu hasil kajian. Kita tidak boleh mendahului hasil penelitian, tetapi juga tidak tepat menyebut sebuah estimasi sebagai karangan hanya karena angka tersebut berbeda dari laporan keuangan perusahaan.

Pada akhirnya, ada dua pertanyaan yang sama-sama penting untuk dijawab. Apakah perusahaan pengelola MotoGP mampu menjalankan usahanya secara sehat dan akuntabel?

Dan sejauh mana penyelenggaraan MotoGP menghasilkan dampak ekonomi yang nyata bagi masyarakat, UMKM, tenaga kerja lokal, pariwisata, serta perekonomian NTB?

Pertanyaan pertama dijawab melalui laporan keuangan dan pemeriksaan yang relevan.

Pertanyaan kedua dijawab melalui kajian dampak ekonomi yang metodologinya dapat dipertanggungjawabkan.

Kita tidak perlu mempertentangkan keduanya. Kerugian perusahaan harus diakui apabila terbukti, dan dampak ekonomi harus diukur berdasarkan penelitian yang dapat diuji. Yang tidak tepat adalah menggunakan satu ukuran untuk meniadakan ukuran lainnya.

MotoGP Mandalika tidak cukup dinilai hanya dari kerugian perusahaan, tetapi juga tidak boleh dibenarkan hanya dengan besarnya angka dampak ekonomi. Keduanya harus diuji secara terbuka, objektif, dan berbasis data. Itulah cara yang adil untuk mengkritisi sekaligus mengevaluasi penyelenggaraan MotoGP Mandalika. (*)

Berita Terkait

275 PMI NTB Dideportasi, Muazzim Akbar Ungkap 3 Penyebab Utama
Hotel Penuh, UMKM Ketiban Rezeki! Ini Dampak MotoGP Mandalika bagi NTB
Iqbal dan Dinda Satu Suara: Marquez! Sembeq Sasak Ikut Mengiringi
Bale Kita Hadir di BIZAM, Kerajinan NTB Makin Mendunia
Mandalika Street Food: Dari Keramaian MotoGP Menuju Destinasi Sepanjang Tahun
Bank NTB Syariah Kucurkan Beasiswa Rp111,6 Juta untuk 15 Mahasiswa Unram
Riders MotoGP Diserbu Fans di Mataram, Troy: Lebih Ramai dan Tertib
Marc Marquez Cs Sapa Warga Mataram, Penggemar: Biasanya Cuma Lihat di TV

Berita Terkait

Selasa, 13 Oktober 2026 - 12:02

Trading di HSB Investasi Dapat Fasilitas Perlindungan Ekstra Dana Tanpa Potongan Biaya

Selasa, 13 Oktober 2026 - 12:02

Empat Pilihan Liburan di Bulan Oktober: Marclan International Hadirkan Penawaran Menginap di Bali, Samosir, dan Jakarta

Selasa, 13 Oktober 2026 - 11:02

Berbekal Psikologi dan Manajemen Risiko, Aryasatya Wishnutama Soroti Faktor Manusia dalam Bisnis Energi

Selasa, 13 Oktober 2026 - 11:02

Merasa Sehat? Belum Tentu Tulangmu Kuat Osteoporosis Bukan Cuma untuk Lansia

Selasa, 13 Oktober 2026 - 11:02

Bank Mandiri Taspen Raih Penghargaan Most Efficient Bank KBMI 2 di BIFA 2026

Selasa, 13 Oktober 2026 - 11:02

Dupoin Futures Analisis Prospek Emas, Support US$4.146 Jadi Level Kunci

Selasa, 13 Oktober 2026 - 10:02

SCALECON 2027, Konferensi Agentic AI Untuk Bisnis Indonesia

Selasa, 13 Oktober 2026 - 10:02

BINUS @Semarang Dorong Transformasi Digital melalui Peluncuran Program Artificial Intelligence

Berita Terbaru