Koran Mandalika, Mataram – Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), mencatat sebanyak 15 ribu kasus penderita katarak hingga 2026.
Kepala Dinas Kesehatan NTB, Lalu Hamzi Fikri, mengatakan adanya potensi penambahan kasus dari tahun ke tahun.
“Ini kita punya data sekitar 15 ribu kasus katarak. Ini secara bertahap, tapi ini maksudnya ada potensi penambahan dari tahun ke tahun,” kata Fikri, Senin (26/10.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Untuk menekan angka tersebut, pihaknya telah melakukan berbagai upaya salah satunya dengan mengadakan bakti sosial operasi katarak gratis.
“Makanya mulai sekarang BPJS, kita juga ada operasi kalau tar screening misalnya di puskesmas. Kalau di rumah sakit kan ada kotak kuota yang diberikan kepada rumah sakit itu kebijakan dari BPJS dan Kementerian Kesehatan. Selain itu kita juga melakukan proaktif lewat bakti sosial, kita sudah keliling di beberapa tempat di NTB,” ucap Fikri.
Menurutnya, katarak merupakan proses alami yang bisa terjadi kepada siapapun. Selian faktor usia, ada juga faktor-faktor lain yang menjadi pemicu katarak, seperti paparan langsung sinar ultraviolet.
“Makanya disarankan kalau ditempat terbuka itu tidak langsung, pakai kacamata hitam atau kalau petani pakai caping itu bagus juga supaya tidak terkena langsung sama paparan sinar ultraviolet,” ujar Fikri.
Fikri menjelaskan penggunaan gadget juga dapat menjadi penyumbang gangguan pengelihatan akibat paran radiasi.
“Sekarang sudah merambah ke anak-anak kita. Anak-anak SD, anak-anak TK yang pegang gadget itu bukan prestasinya yang turun tapi dia ada gangguan pengelihatan,” jelas Fikri.
Berdasarkan data tahun 2004, NTB menempati posisi kedua nasional penderita katarak yakni sebanyak 4 persen.
“Posisi ke dua kita di Indonesia setelah Jawa Timur, 4 persen kita. Kalau Jawa Timur 4,6. Tapi ini kan perlu diupdate lagi karena kita sudah banyak kegiatan yang sudah kita lakukan seperti operasi, ini angkanya sekarang sekitar 15 ribu,” tutur fikri. (dik)






