Emas Rebound Setelah Koreksi Tajam, Pasar Uji Arah di Tengah Tekanan Suku Bunga - Koran Mandalika

Emas Rebound Setelah Koreksi Tajam, Pasar Uji Arah di Tengah Tekanan Suku Bunga

Kamis, 26 Maret 2026 - 06:00

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Harga emas menunjukkan pemulihan setelah mengalami tekanan jual signifikan dalam beberapa hari terakhir. Logam mulia tersebut kembali naik ke atas level US$4.500 per troy ons, setelah sebelumnya anjlok sekitar 15% dalam sembilan hari perdagangan. Pergerakan ini menandai salah satu volatilitas tertinggi dalam periode singkat, mencerminkan sensitivitas pasar terhadap perubahan sentimen global.

Pemulihan harga emas sebagian didorong oleh meredanya kekhawatiran geopolitik. Pernyataan dari Donald Trump terkait adanya kemajuan dalam negosiasi dengan Iran memberikan harapan akan penurunan ketegangan di Timur Tengah. Meski demikian, belum adanya konfirmasi resmi dari pihak Teheran membuat sentimen pasar tetap berhati-hati dan cenderung fluktuatif.

Di pasar, rebound ini lebih banyak dipandang sebagai reli teknikal jangka pendek atau “relief rally”, bukan perubahan tren fundamental. Setelah tekanan jual ekstrem, pelaku pasar memanfaatkan momentum untuk melakukan pembelian kembali (buying on dip), sehingga mendorong harga naik dalam waktu singkat. Namun, arah pergerakan selanjutnya masih sangat bergantung pada faktor makroekonomi yang lebih luas.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Salah satu faktor utama yang membayangi harga emas adalah ekspektasi suku bunga global, khususnya kebijakan dari Federal Reserve. Dalam kondisi di mana inflasi masih berpotensi meningkat akibat kenaikan harga energi, bank sentral Amerika Serikat diperkirakan akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Skenario “higher for longer” ini cenderung menekan daya tarik emas, mengingat aset tersebut tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset).

Baca Juga :  Layer 3: Inovasi Baru dalam Distribusi Token dan Staking

Kondisi ini menciptakan tekanan struktural bagi emas dalam jangka pendek. Ketika suku bunga tinggi bertahan, investor cenderung beralih ke instrumen berbasis imbal hasil seperti obligasi atau deposito. Selain itu, penguatan dolar AS yang biasanya menyertai kebijakan moneter ketat juga dapat menjadi faktor tambahan yang menekan harga emas di pasar global.

Meski demikian, prospek jangka menengah emas masih dinilai konstruktif oleh sebagian analis. Jika tekanan inflasi mulai mereda dan membuka ruang bagi penurunan suku bunga, emas berpotensi kembali mendapatkan dukungan sebagai aset lindung nilai. Dalam skenario tersebut, permintaan terhadap emas dapat meningkat seiring melemahnya dolar dan turunnya imbal hasil riil.

Dengan demikian, pergerakan emas saat ini berada di persimpangan antara tekanan makro jangka pendek dan potensi pemulihan yang lebih kuat ke depan. Investor dihadapkan pada kondisi pasar yang dinamis, di mana perubahan sentimen dapat terjadi dengan cepat seiring perkembangan geopolitik dan kebijakan moneter global.

Baca Juga :  Pajak Kripto Indonesia Tembus Rp2,15 Triliun, Apa Artinya bagi Industri?

Bagi investor Indonesia yang ingin memantau pergerakan emas, saham Amerika Serikat, serta aset kripto secara real-time, semua dapat diakses melalui aplikasi Nanovest. Platform ini memungkinkan pengguna untuk memantau dan berinvestasi dalam berbagai instrumen global dalam satu aplikasi yang praktis.

Jika kamu tertarik untuk mulai berinvestasi di saham AS maupun aset kripto, Nanovest dapat menjadi pilihan yang terpercaya dan aman. Aplikasi ini telah terdaftar dan berlisensi resmi sebagai Pedagang Aset Keuangan Digital di Otoritas Jasa Keuangan (OJK), serta memberikan perlindungan aset dari risiko cybercrime melalui Asuransi Sinarmas. Informasi lebih lanjut dapat diakses melalui www.nanovest.io, dan aplikasi Nanovest tersedia di Play Store maupun App Store untuk mendukung aktivitas investasi di tengah dinamika pasar global.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Berita Terkait

ACT! Project Mendorong Konsumsi Produk Berkelanjutan di Indonesia
Gratis Transfer antarbank di neobank hingga 200 Kali per Bulan
Dulu Cukup Ganti Air, Kini Air Penggantinya Harus Steril: FisTx Hadirkan Baskara UV dan Cakra Elektrolisis
Bagaimana Sistem Keamanan Dana dan Data Bekerja pada Aplikasi Trading Online?
1 Juta Pergerakan Penumpang, KAI Bandara Perkuat Konektivitas Sekaligus Tebar Kepedulian di Lubuk Pakam
Pertamina SMEXPO Yogyakarta Bukukan Capaian Rp3,8 Miliar, Buka Peluang Pasar Lebih Luas bagi UMKM
PLN NPC dan TSG Teken Kontrak Kolaborasi Proyek Gas Insulated Switchgear
Pelindo Multi Terminal Perkuat Layanan Nonpetikemas Pelabuhan Belawan

Berita Terkait

Kamis, 15 Oktober 2026 - 22:02

ACT! Project Mendorong Konsumsi Produk Berkelanjutan di Indonesia

Kamis, 15 Oktober 2026 - 19:02

Gratis Transfer antarbank di neobank hingga 200 Kali per Bulan

Kamis, 15 Oktober 2026 - 18:02

Dulu Cukup Ganti Air, Kini Air Penggantinya Harus Steril: FisTx Hadirkan Baskara UV dan Cakra Elektrolisis

Kamis, 15 Oktober 2026 - 18:02

1 Juta Pergerakan Penumpang, KAI Bandara Perkuat Konektivitas Sekaligus Tebar Kepedulian di Lubuk Pakam

Kamis, 15 Oktober 2026 - 17:02

Pertamina SMEXPO Yogyakarta Bukukan Capaian Rp3,8 Miliar, Buka Peluang Pasar Lebih Luas bagi UMKM

Kamis, 15 Oktober 2026 - 17:02

PLN NPC dan TSG Teken Kontrak Kolaborasi Proyek Gas Insulated Switchgear

Kamis, 15 Oktober 2026 - 16:02

Pelindo Multi Terminal Perkuat Layanan Nonpetikemas Pelabuhan Belawan

Kamis, 15 Oktober 2026 - 16:02

Buktikan Daya Saing Global, Siswa BINUS SCHOOL Torehkan Nilai IB dan Cambridge di Atas Rata-Rata Dunia

Berita Terbaru

Daerah

Tuan Guru Bagu Tutup Usia, Nasihatnya Jadi Pegangan

Kamis, 15 Okt 2026 - 19:01