Koran Mandalika, Mataram – Setelah harga BBM Pertamax resmi dinaikkan menjadi Rp 16 ribu, kini Pertalite menjadi buruan warga. Imbasnya, stok Pertalite di sejumlah SPBU tidak bertahan lama serta terjadi antrean panjang kendaraan.
Menanggapi hal itu, Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) NTB, Samsudin mengatakan hal tersebut tidak dapat dihindarkan.
Pasalnya, kata Samsudin, warga yang semula menggunakan BBM nonsubsidi beralih ke BBM subsidi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“BBM subsidi tidak ada kenaikan harga dan stoknya insyaallah akan tetap tersedia, walaupun fakta di lapangan warga yang semula menggunakan BBM nonsubsidi memburu yang subsidi. Memang itu tidak bisa dihindarkan ya,” katanya, Selasa (23/6).
Untuk itu, lanjut Samsudin, yang perlu dipastikan adalah ketersediaan stok untuk masyarakat.
“Yang perlu dipastikan kepada kita semua adalah stok harus tetap tersedia dengan jumlah yang cukup untuk warga NTB,” lanjutnya.
Sedangkan untuk antrean yang terjadi di SPBU, menurutnya Samsudi, harus ada koordinasi dengan APH untuk menjaga situasi tetap kondusif.
” Perlu koordinasi dengan APH jangan sampai terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan,” tuturnya.
Dia berharap, situasi dunia akan semakin membaik, terutama ketegangan yang terjadi di Timur Tengah. Meski begitu, Samsudin membeberkan beberapa sumur baru di Indonesia sudah mulai diaktifkan.
“Terutama di Selat Hormuz. Karena Pemicunya di sana. Walaupun hasil koordinasi dengan teman-teman ESDM kemarin beberapa lokasi sumur baru di Indonesia sudah mulai diaktifkan,” jelasnya.
Selanjutnya, berdasarkan informasi dari pihak Pertamina, jelas Samsudin, stok Pertalite akan membaik dalam 10 hari ke depan.
“Dari Pertamina kemarin menyampaikan kurang lebih 10 hari kedepan sudah mulai terjaga lah (stoknya),” tutup Samsudin. (dik)






