Koran Mandalika, Lombok Tengah – Hidup seorang pemulung sampah plastik bernama Inaq Geming sangat memprihatinkan.
Dia hidup sebatang kara dan di rumah reyot beralamat di Desa Bonjeruk, Kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah.
Rumah Inaq Geming hanya memiliki satu ruangan. Di dalamnya terdapat satu lemari plastik dan tempat tidur serta perabotan dapur yang membuat kondisi rumah makin sumpek.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Teras rumah yang dia jadikan dapur membuat asap dari tungku menyebar di sekeliling dan makin memperparah keadaan rumah Inaq Geming.
Inaq Geming memiliki dua tetangga dengan kondisi perekonomian hampir sama dengannya.
Pemulung lansia itu memiliki dua saudara. Satu merantau ke luar negeri dan satunya lagi tinggal jauh dari rumah Inaq Geming.
Setiap hari, Inaq Geming ditemani seekor kucing kampung yang dijadikan peliharaan.
Dia mengaku hasil penjualan plastik bekas dirasa tidak cukup untuk menunjang hidupnya. Hanya mendapat Rp 20 ribu.
Kondisi kakinya yang bengkak akibat terjatuh beberapa hari lalu membuatnya tertatih untuk sekadar mencari sesuap nasi.
“Kadang kurang, tapi dicukup-cukupi,” kata Inaq Geming
Pemerintah desa setempat kerap mendatangi rumah Inaq Geming untuk memeriksa kondisinya. Namun, sampai saat ini belum ada tindak lanjut.
“Sudah beberapa kali di foto. Cuma difoto saja,” ujar Inaq Geming. (dik)












