Koran Mandalika, Lombok Tengah — Keselamatan wisatawan di Pantai Semeti, Desa Selong Belanak, Kecamatan Praya Barat, kembali menjadi sorotan setelah seorang wisatawan meninggal dunia akibat terjatuh saat berswafoto di kawasan tersebut.
Wakil Ketua DPRD Lombok Tengah, Lalu Muhammad Akhyar, meminta pemerintah daerah tidak hanya melakukan evaluasi setelah terjadi kecelakaan. Menurutnya, langkah pencegahan harus segera dilakukan, terutama pada titik-titik yang memiliki risiko tinggi bagi pengunjung.
Akhyar mendorong Dinas Pariwisata berkoordinasi dengan pemerintah desa untuk memasang rambu peringatan serta pembatas di lokasi yang berpotensi membahayakan wisatawan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurutnya, keberadaan papan informasi mengenai titik berbahaya penting agar pengunjung mengetahui risiko sebelum mendekati area tersebut. Di lokasi tertentu, rambu juga perlu diperkuat dengan pagar pengaman atau warning barrier.
“Dinas Pariwisata dan Pemdes harusnya mengambil langkah-langkah antisipasi agar dapat segera dilakukan untuk mencegah terulangnya kecelakaan di lokasi wisata yang sama,” kata Akhyar, Selasa (4/8).
Ia menyebut kejadian di Pantai Semeti bukan persoalan yang bisa dianggap sepele. Terlebih, kawasan tersebut disebut telah beberapa kali terjadi insiden yang menimbulkan korban.
Akhyar mengatakan pengawasan terhadap wisatawan tidak mungkin dilakukan secara personal kepada setiap pengunjung. Karena itu, sistem keselamatan di kawasan wisata harus dibuat sedemikian rupa agar mampu memberi peringatan sekaligus membatasi akses ke area berbahaya.
“Harus ada plang peringatan bahwa kawasan tersebut merupakan area berbahaya. Selain itu, perlu dipasang pagar pembatas atau minimal pagar peringatan di beberapa titik rawan,” ujarnya.
Ia juga meminta pengelolaan keselamatan tidak hanya dibebankan kepada pemerintah daerah. Pemerintah desa dan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) yang terlibat dalam pengelolaan destinasi juga dinilai memiliki peran penting.
Akhyar berharap titik yang selama ini sering digunakan wisatawan untuk berfoto dapat dipetakan dan diberikan penanda keselamatan yang mudah terlihat.
“Ini menjadi tanggung jawab bersama, baik Dinas Pariwisata, pemerintah desa maupun Pokdarwis. Karena ini merupakan kawasan destinasi wisata, harus ada koordinasi dan kolaborasi untuk menjamin keselamatan para pengunjung,” tegasnya.
Ia menilai kejadian berulang seharusnya menjadi momentum untuk membenahi sistem keselamatan di destinasi wisata, bukan sekadar memberikan imbauan kepada pengunjung.
“Langkah awal seperti pemasangan rambu, pagar pengaman, dan penanda bahaya harus segera dikerjakan. Dengan begitu, pemerintah benar-benar hadir untuk memberikan perlindungan di kawasan yang memang berisiko,” pungkasnya.
Terpisah, Kepala Dinas Pariwisata Lombok Tengah, Lalu Muhammad Hatta, mengatakan pihaknya akan menindaklanjuti masukan DPRD terkait penguatan aspek keselamatan di destinasi wisata.
Hatta menyebut pemasangan rambu peringatan sebenarnya telah menjadi salah satu pembahasan dalam konsultasi anggaran bersama DPRD sebelum insiden tersebut terjadi.
“Hal itu juga sudah kami sampaikan kepada para anggota DPRD saat rapat konsultasi anggaran kemarin, itu sebelum kejadian. Kami terima masukan itu, segera akan kita benahi, baik pengelolaan maupun infrastrukturnya,” katanya.
Menurut Hatta, pembenahan kawasan wisata juga membutuhkan keterlibatan pemerintah desa sehingga pengelolaan destinasi dapat dilakukan secara bersama, termasuk dalam aspek keselamatan pengunjung.
Ia memastikan lokasi yang dianggap memiliki tingkat risiko tinggi akan menjadi perhatian dalam pemasangan rambu peringatan.
Di sisi lain, Hatta mengingatkan wisatawan untuk tidak mengabaikan tanda-tanda keselamatan yang telah dipasang di kawasan wisata.
“Kita sudah pasang, tapi para wisatawan kadang tidak patuh terhadap rambu-rambu itu, kan ceroboh,” tandasnya. (wan)






