Koran Mandalika, Mataram- Politeknik Pariwisata (Poltekpar) Lombok, Nusa Tenggara Barat, aktivasi program prioritas Kementerian Pariwisata (Kemenpar) RI, yakni gerakan wisata bersih di Pantai Loang Baloq, Kecamatan Sekarbela, Kota Mataram.
Sebelumnya, Poltekpar Lombok juga tuntas melaksanakan amanah Kemenpar RI tersebut di empat titik. Di antaranya, Mandalika, Pantai Tanjung Aan, bukit-bukit di Sembalun, dan Pantai Ampenan.
Direktur Poltekpar Lombok Ali Muhtasom menegaskan Pantai Loang Baloq akan dihajatkan menjadi pilot project program gerakan wisata bersih.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Karena kalau tidak piloting, nanti tidak akan maksimal hasilnya. Jadi, kita akan melihat sampai sedetail mana kita bisa mengedukasi dan mengimplementasikan. Semua menjadi komitmen ya. Kita terapkan budaya bersih. Ini akan menjadi harapan baru buat kualitas pariwisata Nusa Tenggara Barat,” kata Ali Muhtasom, Sabtu (27/12.
Menurut Ali, Laang bolak dipilih karena dinilai membutuhkan. Selain itu, pokdarwisnya juga inisiatif lakukan kolaborasi dengan Poltekpar Lombok demi keasrian sekitar.
Ali Muhtasom mengatakan program gerakan wisata bersih akan berakhir tahun ini. Selanjutnya, pada 2026 fokus terhadap kualitas toilet di destinasi wisata.
“Jadi, menurut kami yang paling krusial ialah kebersihan terkait dengan sampah dan toilet. Sehingga ini harus kita seriusi. Poltekpar Lombok pada 2026 punya program khusus, yaitu Gerakan Toilet (Getol) Bersih Destinasi Wisata,” kata Ali Muhtasom usai melepas peserta bersih-bersih Pantai Loang Baloq.
Ke depannya, Gerakan Toilet Bersih Destinasi Wisata akan digarap atau kolaborasi deengan semua stakeholder. Termasuk paling penting berkolaborasi dengan teman-teman yang berkontribusi langsung di destinasi wisata.
“Kita akan melakukan edukasi, pelatihan-pelatihan bagaimana standardisasi toilet, dan tentunya akan melakukan pendampingan untuk memujudkan bagaimana toilet itu menjadi standar. Sehingga itu menjadi bagian dari indikator kualitas dari pariwisata Nusa Tenggara Barat tentunya,” ujar Ali.
Dia menyebut toilet di destinasi wisata ini menjadi faktor yang menyebabkan keluhan terbesar dari wisatawan.
“Keluhan soal kepuasan pelanggan. Jadi bisa disebut langsung karena toiletnya. Kalau ditanya gimana pengalaman berwisatanya di suatu tempat destinasi, jawabannya kualitas kurang memuaskan dan saya tidak ingin kembali lagi. Memang destinasinya menarik banget, tapi toiletnya kurang,” ucap Ali mencontohkan keluhan wisatawan.
Berangkat dari 2025, pihaknya optimistis pada 2026 destinasi wisata yang dimiliki akan menjadi berkualitas.
“Kita akan mencoba melakukan kolaborasi dan integrasi dengan semua pihak untuk bergerak bersama dan kami menginisiasi fokus pada kebersihan, khususnya toilet. Karena saya lihat memang di mana-mana toilet ini kurang mendapat perhatian dan itu menjadi fokus keluhan tamu,” beber Ali.
Sementara itu, Ketua Pokdarwis Loang Baloq, yakni Tamrin sangat mengapresiasi kegiatan Poltekpar Lombok.
Tamrin mengaku rerata anggotanya tidak mempunyai latar belakang pariwisata. Sehingga dia bersyukur kegiatan ini dapat memberikan pembelajaran bagi pihaknya.
“Kegiatan ini menjadi bahan tindak lanjut kami. Terutama soal kebersihan dan toiletnya. Ini yang kendala kami karena kalau bicara masalah toilet yang ada di pinggir pantai ini beda dengan toilet-toilet yang lain,” jelas Tamrin.
Dia menilai, toilet di pantai ini bukan hanya orang ingin buang air kecil dan sebagainya, tapi ketika pengunjung mandi di pantai mereka semuanya menuju ke toilet tersebut.
“Nah, ini yang jadi masalah kami sehingga kami mencoba mencari pola bagaimana agar ketika mereka mandi di pantai tidak langsung ke toilet, melainkan mungkin kami akan buatkan shower dan sebagainya ke depannya,” ungkap Tamrin. (wan)












