Koran Mandalika, Lombok Tengah- Direktur forum peduli pembangunan dan pelayanan publik (FP4) NTB lalu habiburrahman mengecam tindakan tidak pantas yang dilakukan Bupati Lombok Timur yang telah mengusir seorang pemandu wisata asal Lombok Tengah bersama tamunya yang merupakan wisatawan asing.
Menurut Habib, tindakan ini tidak hanya menunjukkan sikap arogan dan tidak beretika sebagai seorang pemimpin daerah, tetapi juga mencoreng citra pariwisata Lombok di mata dunia internasional.
“Sikap semacam ini sungguh jijik memalukan di tengah upaya promosi wisata oleh warga lokal Bupati Lombok Timur justru menunjukkan wajah kekuasaan yang otoriter dan eksklusif,” kata Habib, Rabu (18/6).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Habib menilai Ini adalah bentuk penyalahgunaan wewenang yang tidak bisa dibenarkan dalam konteks apa pun. Apalagi, di tengah upaya kolektif membangkitkan sektor pariwisata pascapandemi.
“Tindakan ini juga berpotensi menyulut konflik internal antar daerah. memperkeruh hubungan antara masyarakat Lombok Timur dan Lombok Tengah yang selama ini hidup berdampingan,” ujarnya.
Dia menyebut seorang kepala daerah seharusnya menjadi pengayom, bukan pengusir. Seharusnya membuka ruang kolaborasi, bukan membangun tembok penghalang. Seharusnya mendorong kemajuan bersama, bukan menciptakan ketegangan horizontal imbuhnya
Habiburrahman menilai, Bupati Lombok Timur telah gagal memahami esensi kepemimpinan yang adil dan bijaksana. Ia telah mempertontonkan sikap yang tidak layak dari seorang pemimpin publik.
Untuk itu, pihaknya mendesak agar:
1. Bupati Lombok Timur segera menyampaikan permintaan maaf terbuka kepada masyarakat Lombok Tengah, khususnya komunitas pariwisata.
2. Gubernur NTB mengevaluasi serius tindakan ini agar tidak menjadi preseden buruk di masa depan.
3. Semua pemangku kepentingan pariwisata NTB memperkuat koordinasi lintas wilayah untuk mencegah gesekan serupa.
Terakhir, Habib mengingatkan bahwa Lombok adalah satu pulau, satu identitas, satu semangat. Jangan biarkan ego dan arogansi segelintir pemimpin mencabik keharmonisan yang telah lama terjaga. (wan)












