Golden Share Menjadi Instrumen Strategis Negara dalam Kapitalisme Modern - Koran Mandalika

Golden Share Menjadi Instrumen Strategis Negara dalam Kapitalisme Modern

Selasa, 29 Juli 2025 - 15:35

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA (29/07) – Pengamat Industri Baja dan Pertambangan, Widodo Setiadharmaji, menyoroti kembalinya golden share (saham istimewa) sebagai instrumen kebijakan strategis bagi negara di era kapitalisme modern. Hal ini ditegaskan oleh keputusan bersejarah Amerika Serikat (AS) dalam proses akuisisi US Steel oleh Nippon Steel Jepang.

Menurut Widodo, langkah AS ini menandai lahirnya
sebuah era baru di mana negara tidak lagi hanya bertindak sebagai wasit, tetapi
masuk ke arena sebagai pemain aktif untuk menetapkan arah dan batasan bagi
korporasi demi kepentingan nasional.

“Kebijakan ini menunjukkan bahwa bahkan
negara kampiun pasar bebas sekalipun kini bersedia menggunakan instrumen
kontrol langsung ketika kedaulatan industri nasional dipertaruhkan,” kata
Widodo Setiadharmaji. “Dengan demikian, golden share telah
bertransformasi menjadi alat strategis utama dalam kapitalisme modern.”

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Instrumen golden share dalam
akuisisi US Steel tertuang dalam kerangka hukum mengikat bernama National
Security Agreement
 (NSA). Berdasarkan dokumen resmi yang
diumumkan pada 18 Juni 2025, NSA memberikan kekuasaan substantif kepada
Presiden AS untuk memveto berbagai keputusan strategis, termasuk:

Baca Juga :  KAI Daop 8 Surabaya Terima Kunjungan BNN Provinsi Jatim dan BNN Kota Surabaya, Perkuat Kolaborasi Dalam Pencegahan dan Pemberantasan Narkoba

Perubahan
atau pengurangan komitmen investasi yang disepakati.Pemindahan
kantor pusat atau relokasi fasilitas produksi ke luar negeri.Penutupan
fasilitas produksi baja yang dianggap vital di AS.

Selain itu, Nippon Steel juga diwajibkan
berinvestasi US$11 miliar hingga 2028, dan US Steel akan tetap berbadan hukum
AS dengan kantor pusat di Pittsburgh.

PT Krakatau Steel (Persero) Tbk/KS Group yang
dipimpin oleh Akbar Djohan sebagai Direktur Utama dimana sebagai BUMN selain
sebagai entitas bisnis juga bekerja meningkatkan ekonomi rakyat. KS Group melihat
kebijakan ini sebagai pergeseran paradigmatik yang dipicu oleh meningkatnya
ketegangan geopolitik dan disrupsi rantai pasok global.  “Penerbitan golden share ini
adalah yang pertama dalam sejarah industri modern AS, negara yang sangat
menjunjung prinsip pasar bebas,” ungkap Widodo.

Baca Juga :  Emmsons Group Siap Investasi Besar di Indonesia: Gasifikasi Batubara dan Komitmen CSR Jadi Prioritas

Fenomena ini, menurutnya, lahir dari konsensus
bipartisan langka antara Presiden Joe Biden dan Donald Trump yang sama-sama
memandang US Steel sebagai aset vital bagi pertahanan dan keamanan
nasional. Dengan ini, AS secara terbuka mengadopsi instrumen yang selama
ini lebih identik dengan negara seperti Tiongkok, India, bahkan Inggris dan
Jepang pada awal industrialisasinya.

Widodo Setiadharmaji menyimpulkan bahwa kasus US
Steel menjadi bukti sahih bahwa untuk melindungi sektor-sektor vital, termasuk
industri baja, negara-negara paling liberal sekalipun kini merumuskan ulang
cara mereka menjaga kedaulatan ekonominya.

“Golden share telah resmi menjadi
senjata pilihan dalam arsenal kebijakan mereka, sebuah tren yang patut
dicermati oleh Indonesia dalam menjaga industri strategisnya,” pungkas Widodo
Setiadharmaji. (***)

Berita Terkait

Bujet Skincare Bulanan: Cara Mengaturnya agar Tetap Sesuai Kemampuan
LBFest 2026 Dorong Brand Lokal Karya Entrepreneur Muda BINUS Naik Kelas
Zyrex Jadi Merek Indonesia Pertama yang Meluncurkan AI Mini Workstation Berbasis AMD Ryzen AI Max+ 395
CX100 Danantara: Membenahi Layanan BUMN dari Pengalaman Masyarakat
Holding Perkebunan Nusantara Dorong Produktivitas Sawit Rakyat melalui Pembelajaran di Kebun Adolina
KAI Daop 2 Bandung Sampaikan Bahwa Keselamatan Perjalanan KA Butuh Peran Serta Masyarakat
Zentara Melihat Perubahan Besar dalam Cara Perusahaan Mengelola Kerentanan Siber
Dua Puluh Lima Tahun: Narendra Modi dan Posisi India di Dunia

Berita Terkait

Selasa, 6 Oktober 2026 - 06:10

Waskita Beton Precast Kembali Tanam 228 Pohon pada September 2026, Lanjutkan Komitmen Pehijauan Bersama Pelanggan

Selasa, 6 Oktober 2026 - 05:49

SETC Perkuat Kolaborasi Pemerintah dan Swasta untuk Dorong UMKM Naik Kelas

Kamis, 1 Oktober 2026 - 20:45

Emas Kembali Tertekan di Bawah US$4.300, Ini Prediksi XAUUSD Hari Ini

Rabu, 30 September 2026 - 04:32

Minat Internasional Meningkat Seiring Dimulainya Automechanika Jakarta Besok, Hadirkan Partisipasi Global

Rabu, 23 September 2026 - 21:43

BP Tapera Perluas Sosialisasi KPR Sejahtera FLPP, Dorong Masyarakat Miliki Rumah Pertama

Senin, 14 September 2026 - 06:43

Harga Drone Pertanian DJI Agras 2026: Bandingkan T25P, T55, T70P, dan T100 Sebelum Beli

Selasa, 8 September 2026 - 19:01

BIZTECH for Change 2026 Perkuat Peran BINUS @Bekasi sebagai Business, Service, and Technology Campus

Senin, 31 Agustus 2026 - 06:43

Semarak Kemerdekaan, BRI Finance Hadirkan Pembiayaan Motor Baru Mulai 0,7% per Bulan

Berita Terbaru