Harga Emas Tertekan, Pasar Tunggu Sinyal Baru dari The Fed dan Ekonomi AS - Koran Mandalika

Harga Emas Tertekan, Pasar Tunggu Sinyal Baru dari The Fed dan Ekonomi AS

Jumat, 7 November 2025 - 02:15

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Harga emas (XAU/USD) masih melanjutkan tren pelemahannya di awal pekan ini, seiring menurunnya minat terhadap aset safe haven setelah adanya perkembangan positif dalam hubungan dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok. Tekanan jual pada emas berpotensi berlanjut, dengan tren bearish yang masih mendominasi pasar dalam jangka pendek.

Pada perdagangan Jumat (31/10) lalu, emas sempat bertahan di atas level psikologis $4.000 per troy ounce, namun akhirnya terkoreksi hingga ke area $3.985, turun hampir 1% dan mencatatkan penurunan mingguan kedua secara berturut-turut. Tekanan tersebut berlanjut pada awal sesi Asia hari Senin (3/11) di mana logam mulia ini sempat menyentuh level $3.965 setelah penguatan dolar AS dan meningkatnya selera risiko di pasar global.

Berdasarkan analisis dari Dupoin Futures Indonesia, Andy Nugraha, emas menunjukkan bahwa tren bearish masih dominan berdasarkan sinyal candlestick dan indikator Moving Average. Ia memproyeksikan bahwa jika tekanan jual berlanjut, harga emas berpotensi turun ke kisaran $3.959. Namun, jika terjadi koreksi teknikal, rebound menuju $4.026 dapat terjadi sebelum kembali menghadapi resistensi kuat.

“Kondisi pasar saat ini masih dalam fase penyesuaian pasca keputusan The Fed. Emas cenderung mencari arah baru, tetapi selama harga tetap di bawah area $4.026, tekanan jual masih menjadi skenario utama,” jelas Andy Nugraha.

Sentimen positif datang dari kesepakatan parsial antara AS dan Tiongkok yang berhasil menenangkan pasar. Dalam kesepakatan tersebut, Presiden AS Donald Trump menyetujui penurunan tarif dari 57% menjadi 47%, sementara pihak Tiongkok berkomitmen untuk meningkatkan pembelian produk pertanian Amerika dan menangguhkan pembatasan ekspor logam tanah jarang. Perkembangan ini membuat investor cenderung beralih dari aset aman seperti emas ke aset berisiko seperti saham, sehingga membatasi potensi penguatan logam mulia ini.

Dari sisi kebijakan moneter, pasar juga tengah mencerna pernyataan hawkish dari Ketua The Fed, Jerome Powell, yang menegaskan bahwa penurunan suku bunga lanjutan di Desember belum menjadi kepastian. Sikap hati-hati The Fed ini membuat peluang pemangkasan suku bunga lebih lanjut tahun ini semakin kecil, sehingga memperkuat posisi dolar AS dan menekan harga emas yang sensitif terhadap perubahan suku bunga.

Baca Juga :  UMKM Kesulitan Masukkan Produk di NTB Mall? Begini Penjelasan Dekranasda

Selain faktor kebijakan moneter, pelaku pasar kini menantikan rilis data Indeks Manajer Pembelian (PMI) Manufaktur ISM AS untuk bulan Oktober. Data ini akan menjadi katalis penting bagi arah harga emas dalam jangka pendek. Jika hasilnya di bawah ekspektasi, dolar AS berpotensi melemah dan membuka ruang bagi emas untuk kembali menguat. Namun, bila hasilnya positif, tekanan jual kemungkinan akan berlanjut.

Dalam pandangan Dupoin Futures Indonesia, emas saat ini masih berada dalam fase konsolidasi dengan bias negatif. Level $3.959 menjadi area kunci yang perlu diperhatikan — penembusan di bawah level ini dapat memperdalam pelemahan menuju $3.930, sementara penguatan hanya akan terkonfirmasi jika harga mampu menembus dan bertahan di atas $4.026–$4.050.

Press release ini juga sudah tayang di VRITIMES.

Berita Terkait

BRIDS Salurkan Bantuan untuk Dukung Pemulihan Pascagempa di Nusa Tenggara Timur
Waskita Beton Precast Kembali Tanam 228 Pohon pada September 2026, Lanjutkan Komitmen Pehijauan Bersama Pelanggan
SETC Perkuat Kolaborasi Pemerintah dan Swasta untuk Dorong UMKM Naik Kelas
Emas Kembali Tertekan di Bawah US$4.300, Ini Prediksi XAUUSD Hari Ini
Minat Internasional Meningkat Seiring Dimulainya Automechanika Jakarta Besok, Hadirkan Partisipasi Global
BP Tapera Perluas Sosialisasi KPR Sejahtera FLPP, Dorong Masyarakat Miliki Rumah Pertama
Harga Drone Pertanian DJI Agras 2026: Bandingkan T25P, T55, T70P, dan T100 Sebelum Beli
BIZTECH for Change 2026 Perkuat Peran BINUS @Bekasi sebagai Business, Service, and Technology Campus

Berita Terkait

Jumat, 9 Oktober 2026 - 15:45

MotoGP Mandalika 2026, Merchandise Veda Ega Pratama dan Marc Marquez Diminati Pembeli

Kamis, 8 Oktober 2026 - 21:18

Pertamina Mandalika International Circuit Naik Level! Homologasi Grade A FIM Resmi Dikantongi

Kamis, 8 Oktober 2026 - 19:46

Jelang Pilkades, DPMD Loteng Akui Konflik Horizontal Rentan Terjadi

Rabu, 7 Oktober 2026 - 06:28

RSUD Praya Naik Kelas, FP4 NTB Sorot ‘Wajah Lama’ di Struktur Baru

Senin, 5 Oktober 2026 - 19:08

Tiket MotoGP Mandalika Diburu, 4 Kategori Sudah di Atas 95 Persen

Senin, 5 Oktober 2026 - 18:41

Kades Kabul Dilaporkan ke Aparat, Warga Soroti Dugaan Penyimpangan Dana Desa

Senin, 5 Oktober 2026 - 16:12

Kades Kateng Mangkir dari Panggilan Polisi, Kasus Pemalsuan Surat Masuk Penyidikan

Jumat, 2 Oktober 2026 - 18:35

Jam Pengolahan hingga Bahan Baku Disorot, Ada Apa dengan SPPG MBG di Loteng?

Berita Terbaru