Kenaikan Tarif Baja AS Jadi Momentum Krakatau Steel Perkuat Posisi Global - Koran Mandalika

Kenaikan Tarif Baja AS Jadi Momentum Krakatau Steel Perkuat Posisi Global

Senin, 9 Juni 2025 - 12:10

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada akhir Mei 2025 mengumumkan peningkatan tarif impor baja dan aluminium dari 25 persen menjadi 50 persen. Kebijakan proteksionis yang dikenal sebagai “Tarif Trump 2.0” ini menjadi tantangan sekaligus peluang bagi industri baja global, termasuk bagi Krakatau Steel, perusahaan baja terbesar di Indonesia.

Sejak penerapan tarif pertama pada
2018, Krakatau Steel sudah merasakan dampak perlambatan ekspor ke pasar AS.
Namun, AS bukan pasar utama bagi baja Indonesia yang mayoritas mengekspor ke
Asia Tenggara, Jepang, dan Timur Tengah. Kenaikan tarif ini, meski memperketat
akses ke pasar AS, justru mendorong Krakatau Steel Group dan pelaku industri
baja nasional untuk semakin fokus memperkuat daya saing dan memperluas pasar di
kawasan regional dan global.

Menatap Peluang di Tengah
Tantangan

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Krakatau Steel menyikapi kebijakan
baru ini dengan optimisme dan strategi adaptif. Menurut Direktur Utama PT
Krakatau Steel (Persero) Tbk/KRAS,  Akbar
Djohan, diversifikasi pasar menjadi prioritas utama. Dengan memperkuat jaringan
pasar di ASEAN, Asia Selatan, Timur Tengah, dan Afrika. Krakatau Steel berupaya
mengurangi ketergantungan pada pasar yang rawan perubahan kebijakan
proteksionis. Pasar-pasar ini memiliki kebutuhan baja yang terus tumbuh,
seiring dengan perkembangan infrastruktur dan industri di kawasan.

Selain itu, Krakatau Steel fokus
mengembangkan produk baja bernilai tambah tinggi maupun peningkatan produksi
domestik dengan mengembangkan industri hilir baja-aluminium, maupun inovasi
produk lainnya, seperti baja khusus untuk otomotif, konstruksi berkelanjutan,
dan teknologi tinggi, serta dapat meningkatkan daya saing serta membuka peluang
di segmen pasar premium yang lebih stabil dan kurang sensitif terhadap harga.

Baca Juga :  Indonesia Masuki Era Free Intelligence: Pertumbuhan AI Kian Pesat di Berbagai Sektor

Yang tidak kalah penting,
peningkatan efisiensi produksi dan penggunaan teknologi modern menjadi kunci
untuk menekan biaya produksi. Dengan mengadopsi teknologi industri 4.0 dan
proses manufaktur yang ramah lingkungan, Krakatau Steel berkomitmen menjaga
kualitas produk sekaligus menekan dampak lingkungan.

Dalam kesempatan terpisah, Wakil
Menteri Perindustrian RI, Faisol Riza menyatakan, Krakatau Steel memegang peran sangat strategis dalam
memperkokoh pondasi industri baja nasional. Dengan peningkatan kapasitas
produksi dan inovasi produk, Krakatau Steel tidak hanya membantu memperkuat
ketahanan rantai pasok domestik tetapi juga membuka peluang ekspansi pasar di
kawasan regional.

Sinergi dengan Kebijakan
Pemerintah

Pemerintah Indonesia juga
memainkan peran strategis dengan mendorong kebijakan perdagangan yang proaktif.
Melalui kerja sama regional seperti ASEAN dan perjanjian perdagangan bebas
(FTA), pemerintah berupaya memperluas akses pasar bagi produk baja Indonesia.
Selain itu, dukungan insentif untuk peningkatan teknologi dan hilirisasi
industri baja di dalam negeri menjadi bagian dari upaya memperkuat industri
nasional.

Lebih jauh, pemerintah dan
Krakatau Steel perlu terus memantau kebijakan perdagangan global dan respons
negara-negara mitra dagang AS, agar dapat merespons secara cepat dan strategis
terhadap perubahan dinamika pasar.

Seorang pengamat
ekonomi industri, menekankan bahwa dalam menghadapi tantangan global, dukungan
kebijakan pemerintah yang proaktif sangat diperlukan. Kebijakan tersebut harus
mendorong inovasi dan daya saing Krakatau Steel agar dapat memanfaatkan peluang
yang semakin terbuka di pasar ekspor, khususnya di Asia Tenggara dan Timur
Tengah.

Selain itu, pemerintah juga perlu
membuka akses pasar baru di luar AS dan memperkuat posisi dalam kerja sama
regional seperti RCEP dan ASEAN+3. Bagi pelaku industri, strategi adaptasi
harus mencakup diversifikasi sumber bahan baku, efisiensi proses produksi, dan
penguatan kemitraan dagang dengan negara non-AS.

Baca Juga :  Dulu Tenggelam di Dunia Malam, Kini Jadi Pakar Self-Healing & Penyembuhan Holistik!

Optimisme Menyongsong Masa Depan

Langkah
Trump adalah bagian dari tren neo-merkantilisme global yang mulai menggantikan
era globalisasi neoliberal. Dunia perlu menyadari bahwa stabilitas perdagangan
tak bisa hanya bergantung pada goodwill satu negara adidaya. Kerja
sama regional, penguatan industri domestik, dan diplomasi aktif adalah kunci
agar negara-negara seperti Indonesia tidak menjadi korban-melainkan aktor dalam
redefinisi ekonomi global.

Setia Diarta,
Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika
Kementerian Perindustrian, menegaskan komitmen pemerintah dalam memperkuat
industri baja nasional. Menurutnya, dukungan teknologi modern dan kebijakan
perdagangan yang kondusif menjadi kunci agar Krakatau Steel mampu bersaing di
pasar global dan sekaligus mendukung pembangunan industri manufaktur nasional.

Kenaikan tarif baja AS bukanlah
hambatan yang mengakhiri peluang Krakatau Steel, melainkan momentum untuk
memperkuat fondasi bisnis dan bersaing lebih sehat di pasar global. Dengan
strategi diversifikasi pasar, inovasi produk, efisiensi produksi, dan dukungan
kebijakan yang sinergis, Krakatau Steel optimistis dapat mempertahankan posisi
sebagai pilar utama industri baja Indonesia dan memperluas jejaknya di kancah
internasional.

Industri baja Indonesia kini
tengah memasuki era baru yang penuh tantangan sekaligus peluang. Krakatau Steel
dan seluruh pelaku industri diharapkan mampu menjawab tantangan ini dengan
inovasi dan semangat yang kuat, demi masa depan yang lebih maju dan berkelanjutan.
(*)

Image

Berita Terkait

Stablecoin Jadi Lapisan Proteksi Portofolio di Tengah Tekanan Rupiah dan Ketidakpastian Global
Dorong Akses Motor Premium, BRI Finance Tawarkan Skema Pembiayaan Mulai 0,7%
Dari Nol ke First Trade: Strategi Trading untuk Pemula dan 5 Aset Kripto untuk Memulai Secara Lebih Terukur
Long Weekend 1–3 Mei, LRT Jabodebek Operasikan 270 Perjalanan per Hari, Jadi Solusi Mobilitas Liburan yang Efisien, Tepat Waktu, dan Terintegrasi
Mei Banyak Libur, Dompet Bisa Ikut “Libur”?
KA Sangkuriang Bandung–Ketapang Resmi Berangkat Perdana Hari Ini, Buka Konektivitas Baru Jawa Barat hingga Ujung Timur Jawa
Dukung Ketahanan Pangan, Holding Perkebunan Nusantara Lewat PalmCo Perkuat Kemitraan Petani di Jambi
Perkuat Literasi dan Solusi Finansial Nasabah, BRI Life Hadirkan “Wealth and Tax Excellence 2026” di Surabaya

Berita Terkait

Jumat, 17 April 2026 - 12:43

FP4 NTB Soroti Kebijakan Anggaran Bupati Lombok Tengah terkait Nakes

Rabu, 15 April 2026 - 21:02

Camat Sape Resmi Buka MTQ ke-III Yayasan Tahfidz Salahuddin Al Ayyubi 2026, Dorong Lahirnya Generasi Qur’ani

Selasa, 14 April 2026 - 08:30

Diakui Nasional, Bupati Lombok Tengah Terima TOP Pembina BUMD Award 2026

Sabtu, 11 April 2026 - 10:44

Kejari Lombok Tengah dan Poltekpar Lombok Perkuat Kolaborasi, Hadirkan Inovasi Jaksa Sahabat Disabilitas

Jumat, 10 April 2026 - 12:37

Fokus dan Siap Total! Peserta Paskibraka Lombok Tengah Hadapi Tahap Penentuan

Jumat, 10 April 2026 - 10:16

Wabup Nursiah Dorong Aturan Ketat HP Anak, Sekolah Diminta Berinovasi

Kamis, 9 April 2026 - 13:46

Pipa Induk Rusak, Dirut PDAM Loteng: Tak Ada Dampak Signifikan Terhadap Pelayanan

Kamis, 9 April 2026 - 07:10

Musrenbang Lombok Tengah 2026, DPRD Tegaskan Pentingnya Perencanaan Berpihak pada Rakyat

Berita Terbaru