Lebih dari 4.500 Mahasiswa UPN Veteran Jakarta Belajar Berpikir Kritis di Era AI - Koran Mandalika

Lebih dari 4.500 Mahasiswa UPN Veteran Jakarta Belajar Berpikir Kritis di Era AI

Rabu, 29 Oktober 2025 - 12:21

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta – Sebanyak 4.582 mahasiswa Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta berkumpul secara virtual, Rabu (23/10), untuk mengikuti webinar Critical Thinking dalam rangkaian acara PROSPEKTIV 2025. Sesi ini dibawakan oleh pemateri Jaka Arya Pradana, founder dan CEO sebuah agentic AI startup.

Ketika AI Menjawab, Siapa yang Berpikir?

“Di era AI sekarang, kita sering bertanya pada AI tanpa crosscheck kebenarannya. Padahal jawaban AI belum tentu akurat,” ujar Jaka membuka sesi. Pernyataan sederhana itu langsung menyentuh realitas mahasiswa yang tumbuh di era ChatGPT.

Ia kemudian memberikan contoh mengejutkan: sebuah penelitian MIT Media Lab yang viral dengan headline media “Menggunakan ChatGPT bikin lebih bodoh.” Sebagai critical thinker, Jaka mengajak mahasiswa untuk tidak langsung percaya. “Kita perlu cek: seperti apa metode penelitiannya? Apa yang dimaksud ‘lebih bodoh’?”

Ternyata, penelitian oleh Dr. Nataliya Kosmyna berjudul “Your Brain on ChatGPT” melibatkan 54 mahasiswa yang dibagi tiga kelompok: menulis esai dengan otak saja, dengan Google, dan dengan ChatGPT. Kelompok ChatGPT menunjukkan aktivitas otak paling lemah.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Tapi ini bukan berarti ChatGPT membuat bodoh. Ini berarti penggunaan AI tanpa critical thinking membuat otak kita pasif,” jelas pria yang memiliki lebih dari 13 tahun pengalaman mengembangkan sistem AI berskala enterprise ini. “Yang penting bukan menghindari AI, tapi menggunakan AI dengan bijak.”

Membedah Argumen yang Terdengar Meyakinkan

Jaka mengajak mahasiswa bermain detektif logika. Argumen pertama: “Lulusan universitas ternama pasti sukses. Jadi kalau mau sukses, harus masuk universitas ternama.”

Melalui polling, mayoritas mahasiswa menganggap argumen itu cacat. Intuisi mereka ternyata tepat. Setelah dibedah menggunakan Paul-Elder Critical Thinking Framework, terungkap logical fallacy “Correlation ≠ Causation”. “Memang benar banyak lulusan universitas ternama yang sukses. Tapi apakah karena mereka dari universitas ternama? Atau karena faktor lain seperti kerja keras, networking, atau skill?”

Baca Juga :  DPR Usul Gerbong Merokok, KAI Divre IV Tanjungkarang Tegaskan Tak Ada Perubahan Aturan

Argumen kedua lebih menohok: “Tidak perlu belajar matematika karena ada AI dan kalkulator.” Setelah dianalisis, terungkap argumen ini mengandung asumsi tersembunyi dan logical fallacy “False Dilemma”. “Matematika bukan cuma tentang hitung-hitungan. Matematika melatih cara berpikir untuk solve complex problems dan analyze patterns,” terang mantan AVP AI Product Management di Indosat ini.

Pertanyaan yang Menyentuh Inti

Di tengah sesi, seorang mahasiswa UPN Veteran Jakarta bertanya: “Banyak orang percaya berpikir kritis artinya menentang atau mengkritisi berlebihan. Bagaimana menyeimbangkannya?”

Jaka menjawab, “Inti dari berpikir kritis adalah berpikir jernih dan rasional. Dalam argumen bisa jadi tidak semuanya salah – bisa jadi ada yang benar, bahkan solid. Jika argumennya solid, harus kita terima. Bila ada yang benar, apresiasi dulu baru kritisi dengan santun dan elegan. Terkadang problemnya bukan pada isinya, tapi cara menyampaikannya.”

Pertanyaan kedua dari seorang mahasiswi UPN Veteran Jakarta, “Mengapa kemampuan berpikir kritis lebih penting daripada pelajaran mata kuliah?”

Mantan Lead Data Scientist di Telkom ini merespons dengan perspektif praktis: “Keduanya penting. Di awal-awal saya bekerja, pelajaran kuliah sangat terpakai. Tapi berpikir kritis juga penting karena kita harus membuat argumen yang jernih dan rasional agar diterima stakeholder, seperti atasan, rekan kerja, partner, maupun klien. Critical thinking juga memperkuat kemampuan problem solving untuk menyelesaikan berbagai tantangan di dunia kerja.”

Dari Startup AI ke Ruang Kelas Virtual

Deangan latar belakangnya yang telah membantu puluhan perusahaan mengimplementasikan AI dari nol sampai implementasi dan operasional, Jaka memberikan perspektif unik kepada para mahasiswa.  Pria yang dapat dihubungi melalui LinkedIn ini tidak hanya berbicara dari teori, tetapi dari pengalaman langsung membangun dan mengimplementasikan solusi AI.

Baca Juga :  Menyiapkan Biaya Cadangan dalam Renovasi Rumah, Jangan Sampai Tekor di Tengah Jalan!

“Yang terpenting bagaimana manusia menggunakannya dengan bijak. Di dunia kerja, AI bisa kasih data, tapi kalian yang harus evaluate: apakah data ini akurat? Apakah kesimpulan ini logis? Apakah ada perspektif lain?”

Meski dihadiri ribuan peserta, Jaka yang juga Jakarta City Lead di Buildclub.ai, komunitas para AI builder di seluruh dunia ini, berhasil menciptakan suasana interaktif. Ia juga membahas berbagai jenis cognitive bias dan logical fallacy dalam webinar tersebut.

Kebebasan untuk Berpikir

Di penghujung sesi, Jaka meninggalkan pesan resonan, “Critical thinking bukan tentang jadi orang yang skeptis terhadap segalanya atau selalu debat. Critical thinking adalah tentang kebebasan. Ketika kalian bisa berpikir kritis, kalian tidak lagi menjadi budak dari opini orang lain, manipulasi media, tekanan sosial, informasi yang salah, dan keputusan yang buruk.”

Ia menutup dengan tiga tantangan, yaitu selalu bertanya, selalu verifikasi, dan selalu refleksi.

Antusiasme yang terlihat dari aktifnya chat, polling, dan diskusi menunjukkan bahwa critical thinking bukan sekadar topik akademis. Di era AI yang dipenuhi informasi dari berbagai sumber, kemampuan untuk berpikir jernih dan rasional menjadi semakin krusial.

Ketika webinar berakhir, ribuan mahasiswa UPN Veteran Jakarta itu tidak hanya membawa pengetahuan tentang Critical Thinking FrameworkCognitive Bias dan Logical Fallacies. Mereka membawa kesadaran bahwa pikiran mereka adalah milik mereka sendiri, dan mereka punya kuasa untuk memilih bagaimana menggunakannya.

Press Release ini juga sudah tayang di VRITIMES

Berita Terkait

Reska Catering Suguhkan Layanan Profesional di Rapim UO Kemhan 2026
FLOQ Circle: Sisterhood Hadirkan Ruang Aman bagi Perempuan untuk Mengenal Aset Kripto
Danantara Indonesia Serentak Resmikan 6 Proyek Hilirisasi Fase-I dengan Total Nilai Investasi Hingga US$ 7 Miliar
Cara Trader Pemula Mengelola Risiko dengan Trading Plan
Luminous Spring di PIK Avenue Hadirkan Path of Light
Analisis Teknikal Dasar untuk Membaca Arah Pergerakan Harga
Sambut Mudik Lebaran 2026, 16 Ribuan Tiket KA Reguler Keberangkatan Daop 4 Semarang Telah Terjual
KAI Daop 4 Semarang Perkuat Layanan Kesehatan Pegawai melalui Kolaborasi dengan Primaya Hospital

Berita Terkait

Kamis, 12 Februari 2026 - 02:22

MyRepublic Indonesia Resmi Buka Pra-Registrasi Internet FWA: MyRepublic Air

Kamis, 12 Februari 2026 - 00:49

Bersiap Menghadapi Masa Angleb, KAI Services Terus Meningkatkan Kualitas Pelayanan Kebersihan

Kamis, 12 Februari 2026 - 00:07

Antara by Sleeping Lion: Hunian Mewah di Dataran Tinggi

Selasa, 10 Februari 2026 - 17:37

SUCOFINDO Perkuat Tata Kelola Transportasi Publik melalui Sertifikasi ISO 37001 dan ISO/IEC 27001 untuk LRT Jakarta

Selasa, 10 Februari 2026 - 09:06

KAI Daop 2 Bandung Pastikan Keselamatan Perjalanan dan Pelayanan Penumpang Terjamin dengan Baik

Selasa, 10 Februari 2026 - 08:38

Konektivitas Meningkat, Penumpang KAI Bandara Yogyakarta Tembus 239 Ribu di Januari 2026

Senin, 9 Februari 2026 - 21:27

Hubungan Krisis Ekonomi, Inflasi, dan Volatilitas Pasar

Senin, 9 Februari 2026 - 17:13

Media X Space Menempati Ruang Publik Untuk Desain dan Seni Asia

Berita Terbaru