Optimisme Lombok Tengah Bebas Stunting: Intervensi Berkelanjutan Menyasar Sanitasi Hingga Pernikahan Dini - Koran Mandalika

Optimisme Lombok Tengah Bebas Stunting: Intervensi Berkelanjutan Menyasar Sanitasi Hingga Pernikahan Dini

Rabu, 28 Oktober 2026 - 16:03

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Optimisme Lombok Tengah Bebas Stunting: Intervensi Berkelanjutan Menyasar Sanitasi Hingga Pernikahan Dini

Koran Mandalika, Lombok Tengah – Angka stunting di Kabupaten Lombok Tengah menunjukkan tren penurunan dalam beberapa tahun terakhir. Berdasarkan data Dinas Kesehatan, prevalensi stunting yang mencapai 23,03 persen pada 2021 turun menjadi 9,01 persen pada Maret 2026. Meski demikian, ribuan balita masih membutuhkan penanganan dan pemantauan pertumbuhan.

Data Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (E-PPGBM) mencatat, jumlah balita stunting di Lombok Tengah pada Maret 2026 sebanyak 7.446 anak. Angka tersebut menurun dibandingkan Januari 2026 yang mencapai 7.985 balita, meski sempat meningkat pada Februari hingga 10,22 persen.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Lombok Tengah, H. Kusriadi, S.K.M., M.Si., mengatakan, penurunan angka stunting harus diikuti upaya pencegahan yang berkelanjutan agar kasus baru tidak terus bermunculan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menurutnya, penanganan tidak cukup hanya melalui intervensi kesehatan, seperti pemberian makanan tambahan kepada balita yang mengalami stunting. Pemerintah juga perlu memperkuat pendampingan keluarga yang memiliki faktor risiko.

Baca Juga :  LAN Gelar PKN Tingkat I di NTB, Soroti Inovasi Industri Padi

“Data hingga Oktober 2026 ini memang sekitar 7.600 lagi. Nah sekarang yang paling penting lagi adalah bagaimana kita menjaga supaya sekitar 7.600 balita yang mengalami stunting ini bisa pulih dan tidak muncul kasus baru,” kata Kusriadi.

“Jumlahnya masih dinamis. Karena itu, pemerintah tidak hanya berfokus menangani anak yang sudah mengalami stunting, tetapi juga mencegah munculnya kasus baru,” imbuhnya.

Ia menyebut, berdasarkan data yang digunakan dalam program pendampingan, terdapat sekitar 35.000 pasangan usia subur di Lombok Tengah yang masuk kategori berisiko stunting. Data tersebut akan dipetakan lebih terperinci untuk mengetahui kondisi setiap keluarga, termasuk faktor ekonomi, usia perkawinan, dan akses terhadap sanitasi layak.

Untuk mendukung upaya tersebut, DP3AP2KB bersama Tim Pendamping Keluarga melakukan edukasi dan pemantauan terhadap keluarga sasaran. Saat ini, terdapat 2.391 tenaga pendamping keluarga yang bekerja dalam tim beranggotakan tiga orang, terdiri atas unsur tenaga kesehatan, kader keluarga berencana, dan kader lainnya.

Pendampingan dilakukan untuk mengidentifikasi risiko sejak dini, termasuk pada pasangan yang menikah di usia anak dan ibu hamil berusia di atas 35 tahun. Keluarga yang belum memiliki jamban layak juga menjadi perhatian karena sanitasi merupakan salah satu faktor risiko yang perlu ditangani.

Baca Juga :  Diduga Nistakan Al-Qur'an Saat Live TikTok, MUI NTB Desak Polisi Lacak Wanita Asal Lombok

Kusriadi mengatakan, pemantauan perlu dilakukan secara berkelanjutan sejak masa kehamilan hingga bayi lahir. Dengan begitu, kondisi ibu dan pertumbuhan anak dapat dipantau, sementara keluarga yang membutuhkan intervensi bisa segera diarahkan mendapatkan layanan yang sesuai.

Ia juga menyoroti pernikahan usia anak sebagai salah satu tantangan pencegahan stunting. Selain berisiko terhadap kesehatan ibu dan anak, pernikahan dini dapat berkaitan dengan kesiapan mental dan kemampuan pengasuhan orang tua.

Karena itu, penurunan stunting membutuhkan kerja sama lintas sektor, mulai dari tenaga kesehatan, pemerintah desa, hingga lembaga pendidikan dan Kementerian Agama. Edukasi keluarga, perbaikan sanitasi, serta pemantauan ibu hamil dan balita perlu berjalan beriringan.

Kusriadi berharap, pendampingan terhadap keluarga berisiko dapat semakin tepat sasaran sehingga penurunan angka stunting dapat dipertahankan sekaligus mencegah munculnya kasus baru di Lombok Tengah. (my)

Berita Terkait

Tekan Risiko Stunting Sejak Dini, Pemkab Loteng Petakan 35 Ribu Pasangan Usia Subur secara By Name By Address
DP3AP2KB Loteng Dorong Edukasi Reproduksi bagi Santri
Perluas Ekosistem Transaksi Digital, Bank NTB Syariah Dekatkan Layanan Perbankan kepada Masyarakat Dompu
Petani Tembakau Loteng Tuntut Hak, Pemprov NTB Janji Evaluasi
DP3AP2KB Loteng Minta Pengawasan Ponpes Diperketat
Teka-teki Lokasi Makodam Rinambora: Mengapa Lombok Tengah Jadi Alternatif Kuat?
15 Ribu Kasus Katarak di NTB, Kadinkes: Berpotensi Terus Bertambah
Petani di Lombok Timur Diciduk! 1.734 Liter Pertalite Subsidi Disita Polisi Saat Digerebek di Rumahnya

Berita Terkait

Rabu, 28 Oktober 2026 - 18:02

PTPP Raih KESGI Award 2026, Perkuat Kepemimpinan dalam Penerapan ESG

Rabu, 28 Oktober 2026 - 18:02

Semangat Sumpah Pemuda, KAI Daop 2 Bandung Hadirkan Rail Clinic untuk Layani Kesehatan Gratis Warga Rancaekek

Rabu, 28 Oktober 2026 - 18:02

PLN NPC Raih Penghargaan Top GRC Awards 2026, Perkuat Komitmen Tata Kelola dan Keberlanjutan Bisnis

Rabu, 28 Oktober 2026 - 16:02

LRT Jabodebek Hadirkan Pengalaman Edukatif di Tengah Mobilitas Masyarakat

Rabu, 28 Oktober 2026 - 16:02

KAI Logistik Tingkatkan Kemudahan Layanan Pelanggan melalui Fitur Live Chat pada Aplikasi KAI Logistik TRAX

Rabu, 28 Oktober 2026 - 16:02

BRI BO Kutoarjo Gelar Upacara Hari Sumpah Pemuda ke-98, Perkuat Nasionalisme dan Semangat BRILiaN

Rabu, 28 Oktober 2026 - 15:02

Perkuat Sinergi dengan Agen BRILink, BRI Klaten Dorong Akses Layanan Keuangan yang Lebih Dekat dengan Masyarakat

Rabu, 28 Oktober 2026 - 15:02

Bank Mandiri Taspen dan UI Teken Nota Kesepahaman, Perkuat Kolaborasi Perbankan dan Pendidikan

Berita Terbaru