Tekanan Risiko Global Perkuat Minat pada Logam Mulia - Koran Mandalika

Tekanan Risiko Global Perkuat Minat pada Logam Mulia

Kamis, 15 Januari 2026 - 14:17

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Harga emas (XAU/USD) dunia masih mempertahankan tren penguatan yang solid pada awal pekan ini, mencerminkan kombinasi antara sentimen safe-haven yang kuat dan meningkatnya keyakinan pasar terhadap pelonggaran kebijakan moneter Amerika Serikat.

Emas bergerak stabil di kisaran $4.500 per troy ounce setelah sebelumnya mencetak rekor tertinggi baru di area $4.555. Kenaikan ini terjadi seiring investor mencerna data ketenagakerjaan AS yang beragam serta memburuknya situasi geopolitik global, yang kembali mendorong aliran dana menuju aset lindung nilai.

Menurut Analis Dupoin Futures yang disampaikan oleh Andy Nugraha, struktur teknikal emas saat ini masih berada dalam fase bullish yang sehat, ditopang oleh sinyal positif dari pergerakan candlestick dan posisi indikator Moving Average.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Andy Nugraha menjelaskan bahwa pasar emas saat ini masih berada dalam kanal tren naik yang kuat. Pergerakan harga yang konsisten bertahan di atas rata-rata pergerakan jangka menengah menunjukkan bahwa minat beli masih dominan, meskipun harga telah berada di area tertinggi sepanjang sejarah. Dari sisi teknikal, tekanan bullish yang berlanjut membuka peluang bagi emas untuk menguji area $4.600 dalam waktu dekat. Level tersebut dipandang sebagai target lanjutan dari reli yang telah berlangsung selama beberapa pekan terakhir. Namun demikian, Andy juga mengingatkan bahwa dalam kondisi pasar yang telah mengalami lonjakan tajam, risiko koreksi teknis tetap ada. Jika terjadi pelemahan dan harga gagal mempertahankan area kunci, maka penurunan menuju zona $4.536 dapat terjadi sebagai fase konsolidasi sebelum menentukan arah berikutnya.

Baca Juga :  VRITIMES dan Wartadesaku.id Resmi Jalin Kerjasama untuk Mendukung Informasi Berkualitas di Wilayah Pedesaan

Faktor fundamental global tetap menjadi penggerak utama di balik kuatnya harga emas. Ketegangan geopolitik meningkat setelah muncul laporan bahwa Presiden AS Donald Trump tengah mempertimbangkan opsi militer terhadap Iran di tengah gelombang protes dan kekerasan yang terjadi di negara tersebut.

Pada saat yang sama, dinamika keamanan di kawasan Arktik juga memanas setelah Inggris dan Jerman mengkaji peningkatan kehadiran militer mereka di Greenland, sebagai bagian dari respon terhadap perubahan lanskap geopolitik global. Ditambah dengan dampak lanjutan dari penangkapan mantan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh pasukan AS, kondisi ini menciptakan tingkat ketidakpastian yang tinggi di pasar internasional, sehingga mendorong investor untuk memperbesar alokasi pada emas sebagai aset aman.

Dari sisi ekonomi, laporan ketenagakerjaan Amerika Serikat yang dirilis akhir pekan lalu semakin memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mulai memangkas suku bunga tahun ini. Data Nonfarm Payrolls menunjukkan penambahan sekitar 50.000 pekerjaan pada Desember, lebih rendah dari perkiraan pasar, meskipun tingkat pengangguran turun menjadi 4,4 persen. Kombinasi ini memberi sinyal bahwa meski pasar tenaga kerja belum melemah tajam, momentum pertumbuhan mulai melambat. Kondisi tersebut memberikan ruang bagi The Fed untuk bersikap lebih akomodatif, terutama jika tekanan inflasi tetap terkendali. Suku bunga yang lebih rendah akan mengurangi daya tarik dolar AS dan imbal hasil obligasi, sehingga emas yang tidak memberikan bunga menjadi lebih kompetitif di mata investor.

Baca Juga :  Mengapa Surat Domisili Perusahaan Penting bagi Startup di Indonesia

Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun yang bergerak relatif datar di sekitar 4,17 persen turut mendukung stabilitas harga emas di level tinggi. Dengan latar belakang ini, Andy Nugraha menilai bahwa bias pasar terhadap emas masih cenderung positif. Selama ketidakpastian geopolitik dan spekulasi pemangkasan suku bunga terus membayangi pasar, emas berpotensi tetap berada dalam fase bullish, meskipun volatilitas jangka pendek dapat meningkat seiring pelaku pasar menantikan rilis data inflasi AS yang akan menjadi kunci arah pergerakan berikutnya.

Press Release ini juga sudah tayang di VRITIMES

Berita Terkait

Perkuat Sinergi dengan PT Taman Wisata Candi, KAI Services Bahas Kolaborasi Operasional
Believe Fitness Luncurkan ‘Signature Classes’ dengan Protokol Performa Global
Program CSR Dupoin Sasar Akses Air Bersih bagi Warga Terdampak Banjir dan Longsor di Aceh Tamiang
Besi UNP untuk Gudang: Salah Ukuran Bisa Berisiko Besar
Kuasai Bidang Manufaktur dan Otomotif Melalui Program Studi Teknik Mesin
Dukung Keberlanjutan Desa Qur’an, KAI Divre III Palembang Turut Hadir dalam Kegiatan Desa Qur’an Fest 2026
Liberta Malioboro Perluas Kapasitas Jadi 100 Kamar, Angkat Konsep Urban Stay Berbasis Ekosistem Lokal
PTPN IV Regional III Salurkan Rp2,4 Miliar untuk Perkuat Ekonomi dan Pendidikan di Rokan Hulu

Berita Terkait

Rabu, 4 Maret 2026 - 18:08

Perkuat Sinergi dengan PT Taman Wisata Candi, KAI Services Bahas Kolaborasi Operasional

Rabu, 4 Maret 2026 - 10:45

Believe Fitness Luncurkan ‘Signature Classes’ dengan Protokol Performa Global

Selasa, 3 Maret 2026 - 23:14

Besi UNP untuk Gudang: Salah Ukuran Bisa Berisiko Besar

Selasa, 3 Maret 2026 - 22:24

Kuasai Bidang Manufaktur dan Otomotif Melalui Program Studi Teknik Mesin

Selasa, 3 Maret 2026 - 19:56

Dukung Keberlanjutan Desa Qur’an, KAI Divre III Palembang Turut Hadir dalam Kegiatan Desa Qur’an Fest 2026

Selasa, 3 Maret 2026 - 19:15

Liberta Malioboro Perluas Kapasitas Jadi 100 Kamar, Angkat Konsep Urban Stay Berbasis Ekosistem Lokal

Selasa, 3 Maret 2026 - 17:39

PTPN IV Regional III Salurkan Rp2,4 Miliar untuk Perkuat Ekonomi dan Pendidikan di Rokan Hulu

Selasa, 3 Maret 2026 - 16:39

Saat Kebersamaan Menjadi Cerita: Bukber Perdana Topotels Hadirkan Kehangatan Ramadan di Pusat Jakarta

Berita Terbaru