Weaving Culture: Merajut Budaya dengan Inovasi Kontemporer - Koran Mandalika

Weaving Culture: Merajut Budaya dengan Inovasi Kontemporer

Kamis, 11 September 2025 - 13:59

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta, 10 September 2025 – Museum Indonesia, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), menjadi saksi peluncuran koleksi terbaru hasil kolaborasi antara Torajamelo, Bell Living Lab, dan Pendopo dalam acara bertajuk “Weaving Culture: Into Contemporary with Local Innovation.” Acara ini tidak hanya memperkenalkan produk baru yang memadukan warisan budaya dengan inovasi ramah lingkungan, tetapi juga menghadirkan diskusi inspiratif mengenai masa depan tenun Indonesia di tengah perkembangan zaman.

Kolaborasi “Nava”: Tradisi Bertemu Inovasi

Image

Kolaborasi ini dinamai “Nava”, dari bahasa Sanskerta yang berarti baru. Nava menghadirkan semangat segar dalam memadukan warisan tenun tradisional dengan material inovatif berbasis limbah kopi yang dikembangkan oleh Bell Living Lab. Material vegan berbahan biji kopi ini menjadi alternatif kulit yang ramah lingkungan, sekaligus mendukung komitmen Torajamelo terhadap praktik slow fashion dan keberlanjutan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Kami selalu ingin bergerak menuju material yang lebih etis dan bebas dari bahan berbasis hewan. Saat mengetahui Bell Living Lab mengembangkan alternatif kulit dari biji kopi, kami langsung tertarik. Kolaborasi ini, yang kami namai Nava, adalah langkah awal untuk terus menghadirkan produk yang menggabungkan warisan budaya dengan inovasi lokal,” jelas Aparna Saxena, CEO Torajamelo.

Baca Juga :  Prospek Emas Tetap Positif di Tengah Volatilitas Pasar Global

Pembukaan oleh Tokoh-Tokoh Penting

Image

Acara dibuka dengan sambutan dari Putu Laura, Head of Pendopo, yang menegaskan komitmen Pendopo dalam menjembatani tradisi dan gaya hidup modern.

“Peluncuran koleksi ini mencerminkan visi Pendopo untuk menjembatani tradisi dan gaya hidup modern. Karya-karya ini tidak hanya bernilai estetika, tetapi juga memberikan dampak positif bagi perajin lokal, komunitas, dan lingkungan,” ujar Putu Laura.

Sementara itu, Bijay Selvaraj, Deputy Chief of Mission Kedutaan Besar India, mengapresiasi kekayaan tradisi tekstil Indonesia dengan membandingkan pengalamannya di berbagai negara.

“Pengalaman saya di berbagai negara menunjukkan bahwa setiap kain tradisional menyimpan cerita sejarah dan identitas. Di Indonesia, saya terpesona oleh keberagaman warna dan keindahan busana tradisional. Perpaduan antara tradisi dan modernitas seperti yang kita saksikan hari ini sangat penting agar warisan budaya tetap hidup dan relevan bagi generasi mendatang,” ungkap Bijay Selvaraj.

Diskusi Panel: Menjaga Relevansi Tenun

Sesi diskusi dipandu oleh Joshua Matulessy (JFlow) dan menghadirkan Putu Laura, Aparna Saxena, serta Arka Irfani (Founder Bell Living Lab). Panelis menekankan pentingnya menghadirkan tenun dalam bentuk produk turunan yang fungsional bagi generasi muda tanpa kehilangan nilai budaya.

Baca Juga :  TP-Link Hadirkan Router 4G LTE dengan Sertifikasi TKDN untuk Perluas Konektivitas Nasional

Menurut Aparna, menjaga relevansi berarti memahami audiens yang terus berkembang:

“Tidak semua orang akan membeli selembar kain tenun mahal, tetapi mereka bisa membawa sepotong budaya melalui produk sehari-hari yang fungsional, estetik, dan penuh cerita,” ujar Aparna.

Sementara itu, Arka Irfani menambahkan visi Bell Living Lab untuk menghadirkan material berkelanjutan dari limbah pertanian, khususnya kopi, yang dapat menjadi solusi nyata bagi industri kreatif sekaligus mendukung konservasi dan keberagaman hayati.

Workshop: Dompet Kulit Vegan dari Kopi

Image

Sebagai bagian dari rangkaian acara, Bell Living Lab juga menggelar workshop membuat dompet kulit vegan dari biji kopi. Peserta diajak merasakan langsung bagaimana limbah kopi dapat diolah menjadi material baru yang bernilai tinggi sekaligus ramah lingkungan.

Dengan akses gratis untuk publik, kegiatan ini berhasil menarik minat pecinta budaya, pegiat mode berkelanjutan, hingga mahasiswa kreatif yang ingin belajar langsung dari para praktisi.

Weaving Culture menjadi bukti nyata bahwa ketika tradisi, inovasi, dan keberlanjutan bertemu, lahirlah karya yang tidak hanya indah tetapi juga bermakna bagi masyarakat dan generasi mendatang.

Berita Terkait

Hari Pertama WFH ASN, Pengguna LRT Jabodebek Turun 10 Persen, Layanan Tetap Optimal
Promo Hadiah Miliaran Kian Ramai, Pemenang Baru Terus Bermunculan
IA-ITB Kaltim Luncurkan Ganesha Hub untuk Akselerasi Inovasi , Teknologi & Ekonomi Kreatif , Persiapan Untuk Kaltim Pasca Migas & Batubara
Urusan Bisnis Lancar, Cara Profesional Kirim Paket Ke Luar Negeri Berupa Dokumen Legal
Aktivasi Dupoin Futures di CFD Sudirman Tampilkan Inovasi Trading Berbasis Teknologi
Perilaku Investor Saat Pasar Tidak Stabil: Mengelola Psikologi dan Risiko
KAI Daop 2 Bandung Tanggapi Viral Jembatan Cirahong, Tekankan Prioritas Keselamatan Perjalanan KA
SMARTIES™ Indonesia 2026: Menyiapkan Panggung untuk Karya Pemenang Penghargaan

Berita Terkait

Jumat, 10 April 2026 - 10:57

Anjlok ke Peringkat 22, Pemprov NTB Tancap Gas Benahi Keterbukaan Informasi

Kamis, 9 April 2026 - 20:55

Selain Sekda, Gubernur Iqbal Lantik Puluhan Pejabat NTB: Langkah Besar Isi Kekosongan dan Perkuat Kinerja Daerah

Rabu, 8 April 2026 - 18:58

Mi6 Dukung Kebijakan Pengendalian Alih Fungsi Lahan Sawah

Rabu, 8 April 2026 - 18:53

Pemprov NTB Bentuk Satgas, Antisipasi Penumpukan Angkutan Ternak saat Idul Adha

Rabu, 8 April 2026 - 08:34

NTB Petakan Destinasi Wisata Terbaik

Selasa, 7 April 2026 - 22:01

Disperindag NTB Sebut Belum Terima Laporan Soal Kenaikan Harga Plastik

Senin, 6 April 2026 - 07:37

Ubah Stigma Permainan Domino, ORADO NTB Gelar Pelatihan Wasit dan Pelantikan Pengurus

Kamis, 2 April 2026 - 18:12

Kasus Gratifikasi NTB Memanas! Tiga Terdakwa Siap Lapor ke Pejabat Tinggi di Jakarta

Berita Terbaru