Koran Mandalika, Mataram – Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) NTB, Lalu Hamzi Fikri, menegaskan bahwa kasus super flu di Nusa Tenggara Barat berada di angka nol.
Ia mengatakan pihaknya tetap meningkatkan sistem kewaspadaan terutama di semua pintu masuk, seperti bandara dan pelabuhan.
”Teman-teman kesehatan di pelabuhan, bandara itu tetap waspada dengan hal ini. Kita juga kan dari sisi SKDR-nya juga memantau di lapangan,” kata Fikri, Rabu, (7/1).
Meski begitu, ia menuturkan, masyarakat harus tetap memperhatikan imunitas serta lingkungan sekitar.
”Yang terpenting adalah bagaimana kita menjaga daya tahan tubuh kita, menjaga lingkungan kita agar bisa tetap sehat, itu yang terpenting,” tuturnya.
Selanjutnya, seberapa bahayakah super flu ini, dan seberapa cepat penularannya?
Fikri menjelaskan super flu ini merupakan varian dari virus dan memiliki sifat yang agresif serta proses penularan lebih cepat.
”Lebih mudah terkena pada kelompok rentan, seperti anak-anak, lansia,” jelasnya.
Untuk itu, masyarakat perlu memproteksi diri jika merasakan gejala, seperti flu.
”orang yang terkena flu juga dia harus menggunakan masker,” ucapnya.
Menurutnya, perubahan cuaca serta mobilitas penduduk dapat menjadi salah satu faktor yang dapat menyebabkan virus berpindah tempat.
”Ini kan namanya virus, bakteri bisa saja sekarang dengan perubahan cuaca terus mobilitas penduduk yang begitu cepat itu bisa berpindah dari satu tempat ke tempat lain,” ujar Fikri.
Terlebih, lanjut Fikri, banyaknya warga negara asing (WNA) yang keluar masuk dapat berpotensi membawa virus.
”Tapi yang jelas Sistem Kewaspadaan Dini Respons (SKDR) dan pintu-pintu masuk itu diperkuat,” tutupnya. (dik)






