Koran Mandalika, Mataram – Pelaksana Harian (PLH) Kepala Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR), Daniel Alexander Rosang, menyampaikan total luas lokasi yang terkena api imbas kebakaran hutan di Kawasan Savana Propok baru-baru ini sebanyak 98,28 hetare.
Daniel menyampaikan bahwa kondisi saat ini api sudah dinyatakan padam.
“Kondisi sudah dinyatakan padam,” katanya, Kamis (4/6).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sebanyak 30 lebih tim gabungan diturunkan untuk melakukan pemadaman dan semua proses berjalan dengan baik. Terlebih, tidak ada korban dalam proses pemadaman.
“Semua berjalan baik. Tim pulang dalam keadaan selamat tanpa cidera. Kesulitan mungkin faktor lawan angin itu aja karena kondisi angin dan medannya juga agak terjal,” tutur Daniel
Daniel menjelaskan kebakaran itu terjadi pada saat kondisi sepi pengunjung atau tidak ada aktivitas pendakian.
“Tidak ada pengunjung. Memang kejadiannya tidak pada musim pendaki yang melakukan aktivitas. Di savana itu biasanya Jumat, Sabtu, Minggu lah pendakian-pendakian bukit itu,” jelasnya.
Dia melanjutkan, kebakaran tersebut tidak berdampak ke permukiman warga, terutama asap dari akibat kebakaran.
“Karena kan savana itu berada di lembah, dikelilingi bukit sehingga memang jauh dari permukiman warga. Arah anginnya ke atas asapnya juga ke atas,” lanjutnya.
Namun sampai saat ini pihak TNGR masih melakukan penyelidikan penyebab kebakaran tersebut.
“Penyebabnya masih kami selidiki. Kalau kebakaran ini kan bisa kita katakan perbuatan manusia itu hampir 90 persen. Tapi penyebabnya perbuatan manusia yang bagaimana? Masih kita selidiki,” ucap Daniel.
Daniel juga menjelaskan bahwa faktor cuaca juga dapat berpotensi menjadi penyebab kebakaran.
“Kebetulan di Savana Propok itu kan ekosistemnya ilalang, semak dan sudah mulai kering. Sehingga menjadi bahan bakar yang sangat potensial kalau sedikit aja ada api ditambah kecepatan angin jadi cepat kebakarannya,” ujar Daniel.
Daniel mengimbau kepada para pengunjung untuk bijak dalam menggunakan api terutama di kawasan yang rawan kebakaran.
“Seminimal mungkin kita tidak menggunakan api secara berlebihan. Kalau ada aktivitas wisata kita memasak atau apa, betul betul dipastikan padam, puntung rokok terutama,” imbaunya. (dik)






