Koran Mandalika, Lombok Tengah – Pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) yang digelar di Kabupaten Lombok Tengah menuai sorotan publik. Acara yang seharusnya menjadi momentum syiar dan pemuliaan Al-Qur’an itu dinilai kehilangan nuansa sakral setelah rangkaian kegiatan ditutup dengan penampilan penyanyi pop nasional.
Kondisi tersebut mendapat tanggapan dari Forum Peduli Pembangunan dan Pelayanan Publik (FP4) NTB. Organisasi tersebut menilai konsep penyelenggaraan MTQ tahun ini telah bergeser dari nilai-nilai utama yang seharusnya menjadi ruh kegiatan keagamaan tersebut.
Direktur FP4 NTB, Lalu Habiburrahman, mengatakan Al-Qur’an merupakan petunjuk hidup sekaligus penyejuk hati bagi umat Islam. Menurutnya, lantunan ayat-ayat suci yang dibacakan para qari dan qariah sejatinya sudah cukup menghadirkan suasana khusyuk dan memberikan pesan spiritual kepada masyarakat tanpa perlu dibalut hiburan yang berlebihan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kami sangat miris melihat konsep acara yang disuguhkan panitia dan pemerintah daerah kali ini. Bagaimana mungkin puncak dari kegiatan membaca dan mengagungkan Al-Qur’an justru ditutup dengan konser musik pop. Terlihat seolah-olah kemeriahan acara lebih diutamakan dibandingkan menjaga kesakralan MTQ itu sendiri,” ujar Lalu Habiburrahman, Selasa (16/6).
Menurutnya, penempatan konser musik sebagai acara penutup berpotensi menggeser fokus masyarakat terhadap tujuan utama penyelenggaraan MTQ. Ia khawatir pesan-pesan Al-Qur’an yang selama ini menjadi inti kegiatan justru kalah oleh euforia hiburan yang ditampilkan di penghujung acara.
“Jangan sampai masyarakat pulang dari arena MTQ bukan membawa kesan tentang indahnya lantunan ayat suci dan nilai-nilai Al-Qur’an, melainkan hanya mengingat kemeriahan konser musik yang menjadi penutup acara,” katanya.
Pria yang akrab disapa Habib itu menegaskan bahwa kritik yang disampaikan FP4 NTB bukanlah bentuk penolakan terhadap musik, seni, maupun hiburan. Namun, menurutnya, setiap kegiatan harus ditempatkan sesuai konteks dan tujuan penyelenggaraannya.
“MTQ bukan festival hiburan umum dan bukan pula panggung konser. MTQ adalah ruang syiar yang bertujuan mendekatkan masyarakat kepada Al-Qur’an. Karena itu, kesakralan dan nilai spiritualnya harus tetap menjadi prioritas utama,” tegasnya.
FP4 NTB berharap penyelenggaraan MTQ pada masa mendatang dapat kembali menempatkan nilai-nilai keagamaan sebagai fokus utama kegiatan. Menurut mereka, semangat memuliakan Al-Qur’an tidak boleh dikaburkan oleh upaya menghadirkan kemeriahan yang berpotensi menggeser makna acara.
“Jangan sampai dengan alasan mengikuti tren atau mengejar keramaian, kita justru kehilangan esensi yang paling mendasar. Sudah saatnya kita bertanya kepada diri sendiri, apakah kita benar-benar sedang memuliakan Al-Qur’an atau hanya menghadirkan hiburan yang dibungkus dengan label kegiatan keagamaan,” tutup Lalu Habiburrahman. (*)






