Oligarki Global di Balik Tragedi Perang Iran Amerika Israel 2026 - Koran Mandalika

Oligarki Global di Balik Tragedi Perang Iran Amerika Israel 2026

Minggu, 5 April 2026 - 17:55

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Ariady Achmad & Tim

Koran Mandalika, Mataram- Serangan rudal yang menghantam Teheran pada 28 Februari 2026 menjadi bukti nyata manifestasi sistem dominasi global yang mengatasnamakan pertahanan diri. Eskalasi militer ini sejatinya lahir dari kebutuhan untuk mempertahankan kekuasaan absolut.

​Dunia menyaksikan bagaimana dentuman bom di Iran merupakan bahasa kepentingan yang tidak pernah disiarkan oleh media arus utama. Perang ini menjadi operasi yang dirancang secara sistematis oleh para pemain besar di balik layar kekuasaan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

​Analisis geopolitik menunjukkan bahwa serangan terhadap Iran bukan sekadar operasi militer biasa. Fenomena ini adalah bentuk nyata dari sebuah sistem internasional yang sangat haus akan dominasi politik dan ekonomi global.

​Narasi Iran sebagai ancaman global tidak muncul secara tiba-tiba melainkan melalui proses panjang laporan kebijakan yang sangat masif. Pembingkaian media secara global memainkan peran sentral dalam menjaga agar isu ini tetap berada di pusat perhatian.

​Lalu, persepsi bahaya tersebut sengaja diproduksi dan diperbesar untuk melegitimasi tindakan militer di mata masyarakat internasional. Strategi ini berhasil menciptakan urgensi semu yang secara langsung menguntungkan pihak-pihak tertentu dalam lingkaran elite.

​Industri pertahanan menjadi jantung dari ekosistem konflik ini karena perang merupakan bisnis yang tidak pernah mengenal rugi. Para kontraktor senjata global selalu berada di barisan terdepan setiap kali ketegangan antarnegara mulai memuncak secara dramatis.

​Raksasa militer seperti Lockheed Martin hingga Raytheon Technologies meraup keuntungan melimpah dari setiap kontrak senjata baru. Nilai saham mereka justru menguat tajam saat stabilitas sebuah kawasan mulai goyah dan hancur akibat dentuman meriam.

Baca Juga :  Refleksi atas Instruksi Ketua Umum dan Kegelisahan Lapangan tentang Ketahanan Pangan

​Logika ekonomi modern kini menempatkan perdamaian sebagai sebuah anomali yang harus dihindari demi menjaga aliran modal tetap lancar. Uang mengalir deras ke kantong para pengambil kebijakan melalui berbagai mekanisme pendanaan yang terlihat sangat legal.

​Hubungan timbal balik antara politisi dan korporasi besar menciptakan jaringan donor yang sangat sulit untuk dipisahkan. Setiap keputusan strategis negara sering kali hanya mengekor pada kepentingan para pemilik modal yang mengendalikan arah kebijakan.

Arsitektur Kekuasaan dan Terorisme Negara Modern

Lembaga pemikir atau think tank internasional bertugas memproduksi wacana untuk membingkai realitas agar terlihat rasional. Dari sinilah lahir definisi ancaman dan legitimasi perang yang seolah-olah demi kepentingan keamanan nasional negara-negara adidaya.

​Fenomena revolving door di departemen pertahanan menunjukkan bagaimana pejabat publik dan eksekutif industri bertukar posisi secara berkala. Simbiosis ini mengaburkan batas antara keputusan politik murni dan syahwat bisnis para pemain industri senjata.

​Ekosistem kepentingan tersebut membuat keputusan untuk menyerang kedaulatan negara lain menjadi bagian dari strategi korporasi yang terstruktur. Negara dan perusahaan kini seolah telah menyatu dalam satu visi untuk menguasai sumber daya global.

​Dukungan tanpa batas terhadap Israel dinilai bukan sekadar urusan geopolitik melainkan bagian dari kalkulasi politik domestik yang sangat rumit. Iran secara sengaja diposisikan sebagai lawan permanen guna menjaga agar narasi ancaman tetap laku dijual.

​Status lawan permanen tersebut sangat berguna untuk mempertahankan anggaran militer yang mencapai angka fantastis setiap tahunnya. Hal ini menciptakan ketergantungan akut antara industri perangkat perang dan arah kebijakan luar negeri sebuah negara.

Baca Juga :  Dari Miss Glamour ke Fitnah Politik: Mari Kita Waras Bersama

​Dunia perlu bertanya secara jujur mengenai praktik kekerasan yang dilegalkan oleh negara melalui instrumen hukum internasional. Ketika negara menggunakan kekuatan militer untuk menciptakan ketakutan, maka esensi terorisme telah bergeser menjadi instrumen kekuasaan yang sah.

​Perbedaan mendasar hanya terletak pada kepemilikan legitimasi hukum untuk melakukan serangan terhadap infrastruktur dan warga sipil. Teror tidak lagi hanya milik kelompok non-negara, melainkan telah menjadi alat diplomasi koersif yang sangat mematikan.

​Konsep deep system yang melibatkan lembaga keuangan internasional bergerak searah untuk mempertahankan aliran keuntungan. Dalam kacamata ini, konflik bukan lagi dianggap sebagai kegagalan diplomasi melainkan sebuah mekanisme yang berfungsi sangat efektif.

​Arsitektur kekuasaan global ini tidak selalu bergerak dalam sebuah konspirasi terbuka namun memiliki tujuan yang sangat seragam. Mereka memastikan kekuasaan tetap terpusat dan keuntungan material terus mengalir ke kelompok oligarki yang memegang kendali.

​Tragedi perang tahun 2026 ini membuka tabir gelap bahwa dunia dikelola oleh jaringan kepentingan yang melampaui hukum internasional. Nilai-nilai kemanusiaan sering kali dikorbankan demi stabilitas ekonomi para pemain besar di panggung geopolitik dunia.

​Realitas pahit ini menunjukkan bahwa dunia masih terjebak dalam ilusi keamanan yang sebenarnya diciptakan oleh para arsitek perang. Keberanian untuk mengakui pola ini menjadi langkah awal untuk menghentikan siklus kekerasan yang terorganisir. (*)

Berita Terkait

Pemilihan Bupati 2030: Politik “Lauq-Daye” Tak Lagi Relevan, Lombok Tengah Butuh Pemimpin Berintegritas dan Berpengalaman
Aktivis Demokrasi Songsong Ramadhan
‎Diskusi Terbatas Hariman Siregar Cs Tekankan Integritas dan Kemanusiaan
‎Peringatan Malari 1974 dan HUT INDEMO ke-26
Mengakhiri Kemiskinan NTB dari Desa
Gerakan Mahasiswa Era NKK/BKK – Orde Baru : Sejarah dan Realitas (Bagian Satu)
Biarkan Hukum Berjalan Diatas Rel Hukum
Dari Miss Glamour ke Fitnah Politik: Mari Kita Waras Bersama
Tag :

Berita Terkait

Rabu, 20 Mei 2026 - 18:00

Tukar Koin ASRI Living dan Nikmati myBCA Java Jazz Festival 2026

Rabu, 20 Mei 2026 - 18:00

DISG: Platform Kerja Sama Ekonomi Jepang-ASEAN Diluncurkan di Tengah Pandemi COVID-19. Masuo Kuremura, Mantan Sekretaris Menteri Ekonomi, Perdagangan, dan Industri, Ditunjuk sebagai Ketua

Rabu, 20 Mei 2026 - 18:00

Barang yang Harganya Sering Mendadak Naik Saat Iduladha

Rabu, 20 Mei 2026 - 17:00

Kecepatan Menjadi Kunci Penyelamatan Nyawa pada Penanganan Penyakit Aorta Kompleks di Era Modern

Rabu, 20 Mei 2026 - 17:00

Dampak Konflik Internasional terhadap Inflasi Global dan Rantai Pasok Dunia

Rabu, 20 Mei 2026 - 13:00

Danantara Bahas Indonesia Open Network, Dorong Fondasi Baru Ekonomi Digital yang Lebih Inklusif

Rabu, 20 Mei 2026 - 13:00

Harga HYPE Naik Menembus US$48 di Tengah Pelemahan Rupiah dan Tren Bitcoin 2026

Rabu, 20 Mei 2026 - 12:00

KAI Daop 1 Jakarta Targetkan Penutupan 40 Perlintasan Liar hingga Agustus 2026

Berita Terbaru

Teknologi

Barang yang Harganya Sering Mendadak Naik Saat Iduladha

Rabu, 20 Mei 2026 - 18:00