Mengakhiri Kemiskinan NTB dari Desa - Koran Mandalika

Mengakhiri Kemiskinan NTB dari Desa

Selasa, 23 Desember 2025 - 06:08

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : Iwan Harsono

Koran Mandalika, Mataram – Program Desa Berdaya yang digagas oleh Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat bukan sekadar program bantuan sosial biasa, tetapi merupakan strategi struktural untuk mengatasi kemiskinan ekstrem secara berkelanjutan. Melalui pendekatan intervensi terpadu yang menggabungkan perlindungan sosial,

pemberdayaan ekonomi, pendampingan, dan inklusi keuangan, strategi ini menempatkan desa sebagai unit pembangunan utama dalam menurunkan kemiskinan di akar rumput.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pertimbangan kebijakan ini lahir dari kondisi nyata di NTB. Laporan perkembangan indikator kesejahteraan menunjukkan bahwa tingkat kemiskinan di NTB masih signifikan: pada 2024 mencapai 11,91 % dari total penduduk, dengan
tantangan kemiskinan ekstrem yang memerlukan pendekatan lebih dari sekedar bantuan sementara.

Mengapa Harus Desa Berdaya?

1. Kemiskinan merupakan masalah struktural yang memerlukan strategi berlapis. Fokus program terletak pada graduasi keluarga miskin
dari ketergantungan menjadi kemandirian ekonomi melalui pendampingan dan penguatan kapasitas, bukan hanya pemberian bantuan langsung. Ini sejalan dengan praktik graduation approach yang telah diakui secara global sebagai metode efektif dalam mengeluarkan rumah tangga dari kemiskinan ekstrem, dengan tingkat keberhasilan antara 75 %–95 % di berbagai negara.
2. Intervensi yang terukur dan menyeluruh. Pemprov NTB telah menyiapkan indikator kemiskinan sebanyak 39 variabel untuk memastikan intervensi yang tepat sasaran dan terukur. Pendamping lokal akan bekerja langsung dengan sekitar 50 KK pada tahap awal setiap desa, memperkuat penguasaan data dan respons program.
3. Fokus pada desa-desa miskin ekstrem. Strategi ini diarahkan pada desa-desa dengan konsentrasi kemiskinan paling tinggi; misalnya 106 desa miskin ekstrem ditargetkan keluar dari kemiskinan melalui program ini dalam jangka
menengah (sebelum tahun 2029).

Baca Juga :  ‎Diskusi Terbatas Hariman Siregar Cs Tekankan Integritas dan Kemanusiaan

Argumen Pendukung Strategi Struktural

a. Desa Berdaya memadukan berbagai pilar pembangunan: sosial, ekonomi, dan digitalisasi desa untuk memperkuat transparansi dan efektivitas intervensi. Artinya, desa bukan hanya mendapatkan dana, tetapi juga kapasitas perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi berbasis data digital, sehingga potensi desa dapat dimaksimalkan.
b. Pendekatan ini tak hanya menyentuh aspek ekonomi, tetapi juga kemampuan desa dalam mengelola sumberdaya lokal seperti desa mandiri pangan dan potensi pariwisata, yang merupakan kunci diversifikasi pendapatan masyarakat pedesaan.
c. Model ini juga dinilai selaras dengan inisiatif dunia, seperti metode graduasi yang diusung BRAC International sebuah bukti bahwa strategi yang dipilih bukan sekadar moda lokal tetapi telah diuji di berbagai konteks pembangunan
global.

Baca Juga :  Aktivis Demokrasi Songsong Ramadhan

Potensi dan Tantangan

Potensi:
a. Program ini dapat meningkatkan ketahanan ekonomi desa melalui pengembangan usaha produktif, akses ke layanan keuangan inklusif, dan dukungan pelatihan keterampilan.
b. Penguatan kelembagaan desa mendukung ownership lokal terhadap
pembangunan berkelanjutan.

Tantangan:
a. Keberhasilan tergantung pada quality of coaching, integrasi lintas sektor, dan kesinambungan pembiayaan di luar APBD.
c. Ketepatan pengukuran dan validitas data desa masih menjadi pekerjaan rumah dalam menjamin efektivitas kebijakan.

Kesimpulan

Desa Berdaya di NTB lebih dari sekadar paket program: ia merupakan pendekatan struktural dan sistematis untuk mengatasi kemiskinan ekstrem melalui pemberdayaan komunitas, pendampingan berbasis data, dan pembangunan ekonomi lokal.

Dengan target yang jelas, indikator yang terukur, serta dukungan metodologis dari praktik global yang terbukti, program ini berpotensi menjadi model pengentasan kemiskinan yang berkelanjutan, inklusif, dan berbasis desa.

Namun, keberhasilan jangka panjangnya tergantung pada implementasi di tingkat lokal, komitmen multi-stakeholder, dan adaptasi responsif terhadap dinamika nyata di lapangan. (*)

Berita Terkait

UKT Naik, Ada Apa Dengan UIN Mataram?
Merajut Narasi, Melupakan Substansi: Catatan Kritis kegiatan PBAK 2026 UIN Mataram
Ketika Opini Menjadi Hakim, Hukum Bukan Soal Viral di Ruang Publik
Pemilihan Bupati 2030: Politik “Lauq-Daye” Tak Lagi Relevan, Lombok Tengah Butuh Pemimpin Berintegritas dan Berpengalaman
Oligarki Global di Balik Tragedi Perang Iran Amerika Israel 2026
Aktivis Demokrasi Songsong Ramadhan
‎Diskusi Terbatas Hariman Siregar Cs Tekankan Integritas dan Kemanusiaan
‎Peringatan Malari 1974 dan HUT INDEMO ke-26

Berita Terkait

Kamis, 13 Agustus 2026 - 18:08

Merajut Narasi, Melupakan Substansi: Catatan Kritis kegiatan PBAK 2026 UIN Mataram

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 16:05

Ketika Opini Menjadi Hakim, Hukum Bukan Soal Viral di Ruang Publik

Selasa, 12 Mei 2026 - 11:07

Pemilihan Bupati 2030: Politik “Lauq-Daye” Tak Lagi Relevan, Lombok Tengah Butuh Pemimpin Berintegritas dan Berpengalaman

Minggu, 5 April 2026 - 17:55

Oligarki Global di Balik Tragedi Perang Iran Amerika Israel 2026

Rabu, 18 Februari 2026 - 21:06

Aktivis Demokrasi Songsong Ramadhan

Minggu, 18 Januari 2026 - 20:33

‎Diskusi Terbatas Hariman Siregar Cs Tekankan Integritas dan Kemanusiaan

Kamis, 15 Januari 2026 - 16:20

‎Peringatan Malari 1974 dan HUT INDEMO ke-26

Selasa, 23 Desember 2025 - 06:08

Mengakhiri Kemiskinan NTB dari Desa

Berita Terbaru