Koran Mandalika, Mataram – Kenaikan harga bahan dasar plastik berimbas ke sejumlah barang yang terbuat dari palstik mengalami lonjakan harga yang tinggi.
Kondisi ini membuat minat pembeli menjadi berkurang dan mengakibatkan sejumlah pedagang mengeluh.
Seperti halnya Ayu, seorang pedagang barang-barang palstik di Pasar Dasan Agung ini mengaku kenaikan harga plastik hampir mencapai seratus persen dari harga normal.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kalau dari harga normal jauh sekali naiknya. Bisa dibilang sekitar 100 persen lah naiknya,” kata Ayu, Rabu (1/7).
Ayu membeberkan dengan harga normal ia hanya membayar Rp 800 ribu per karung. Setalah harga naik ia harus merogoh kocek hingga Rp 1 juta lebih.
“Yang dulu yang harganya Rp 800 ribu sekarang sudah Rp 1.700.000,. Kalau kita ngecer yang Rp 3 ribu sekarang paling tidak Rp 6 ribu sampai Rp 7 ribu,” bebernya.
Dengan kondisi ini, dirinya tak jarang mendapat keluhan dari pembeli.
“Ya pasti ada aja keluhannya karena terlalu tinggi (harganya),” pungkas Ayu.
Menanggapi hal itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan NTB, Lalu Wirata, mengatakan kenaikan harga plastik ini disebabkan oleh bahan dasar yang diimpor.
Dengan kondisi nilai tukar rupiah terhadap dolar melemah, kata Wiranata, stok bahan plastik yang didapat menjadi berkurang.
“Kalau informasi yang kami dapat bahannya dari impor. Ketika harga dolar naik kurang bahan yang masuk ke sini, otomatis karena sedikit stoknya otomatis dia naik harganya karena semua orang yang minta,” kata Wiranata.
Pihaknya menyarankan agar para pedagang beralih ke merek plastik yang bahan dasar dari lokal.
“Ada kemarin (plastik bahan dasar lokal) tapi untuk kemasan tertentu. Kemarin sudah ditawarkan ke para pedagang di pasar,” ucapnya.
Tetapi, lanjut Wiranata, yang menjadi masalah ialah kekhawatiran para pedagang akan berkurangnya minat pelanggan terhadap produk yang ditawarkan.
“Loyalitas itu yang membuat dia enggak mau pakai merek lain. Padahal ada ini ya yang buatan lokal dan lebih murah, kualitasnya enggak jauh beda lah. Tapi pedagangnya yang enggak mau, entah itu produknya atau kemasannya (yang berbeda),” lanjutnya.
Dia menambahkan, pemerintah daerah sendiri tengah berupaya untuk mencari cara agar kenaikan harga plastik ini tidak membebani para pedagang dan pembeli.
“Pertama, kita minta kepada pemerintah pusat untuk mencarikan solusi dan yang ke dua kita coba tawarkan produk lain yang kualitasnya sama,” imbuhnya. (dik)
