Koran Mandalika, Lombok Tengah — Tokoh Dusun Adat Sade, Thalib alias Amaq Aris, membeberkan aliran dana untuk mendukung pembangunan kembali Kawasan Adat Sade pasca dilalap si jago merah pada 22 Agustus 2026.
DONATUR UTAMA dan KONTRIBUSI BESAR
Aris menyebut PT Sapo Development Indonesia menjadi salah satu donatur dengan nilai bantuan terbesar dalam proses pemulihan Desa Adat Sade, Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dia menegaskan PT Sapo Development Indonesia menggelontorkan dana Rp2 miliar, sedangkan Raffi Ahmad Rp1 miliar.
Bantuan juga datang dari Chili House sebesar Rp182 juta yang diperuntukkan bagi pembangunan berugak Bale Sangkep di kawasan Desa Adat Sade.
Bantuan dari MIM Foundation belum ditotalkan. Dana tersebut direncanakan untuk membangun masjid dan museum melalui kolaborasi dengan PT Otsuka. Sementara itu, PT Otsuka sudah menggelontorkan Rp500 juta. Hanya saja, dana tersebut dikirim ke Satgas Pemulihan dan Penataan Desa Adat Sade.
Bantuan dari Kementerian Pariwisata juga sudah diterima secara simbolis dengan nominal Rp800 juta lebih. Selain itu, kementerian juga sudah menyalurkan 40 alat tenun.
BANTUAN YANG BELUM TEREALISASI
Adapun bantuan dari DPR RI Sari Yuliati sebesar Rp200 juta belum diterima hingga saat ini. Begitu juga dengan bantuan dari Wakil Gubernur NTB Indah Dhamayanti Putri dengan estimasi senilai Rp60 juta yang belum terealisasi.
Bantuan lainnya datang dari Bank BTN. Sebanyak 75 kepala keluarga dibuatkan rekening dengan saldo masing-masing Rp1 juta.
Bank Syariah Indonesia (BSI) juga menjanjikan bantuan Rp1 miliar. Hanya saja, baru terealisasi Rp153 juta untuk membangun gapura.

Sementara itu, pembangunan toilet akan dilakukan Dharma Lautan Utama. Namun, bantuan tersebut belum terealisasi dan masih dalam tahap perencanaan.
Janji berikutnya datang dari Menteri Kebudayaan, Fadli Zon. Fadli Zon, kata Aris, menjanjikan Rp30 miliar.
”Hanya janji saja. Kalau saya harus katakan, tidak ada sepersen pun. Belum tersalurkan,” tegas Aris.
PERUNTUKAN DANA SAPO DEVELOPMENT dan RAFFI AHMAD
Aris menjelaskan donasi Rp2 miliar dari PT Sapo tersebut disalurkan ke rekening Dusun Sade sebesar Rp1 miliar dan sisanya ke rekening Bank NTB Syariah yang dikelola Satgas Pemulihan dan Penataan Desa Adat Sade.
Uang Rp1 miliar tersebut diperuntukkan bagi warga untuk membeli material, seperti bambu, kayu, dan biaya tukang harian. Pasalnya, selain dikerjakan gotong royong, masyarakat juga mendatangkan jasa tukang luar.
”Dipakai untuk bangun rumah (sumbangan Sapo, red). Donasi dari Raffi Ahmad diperuntukkan membeli tiang pertama. Kalau konsumsi, alhamdulillah sudah lebih dari cukup,” kata Aris.
Dia mengaku, Rp1 miliar dari Sapo yang dikelola satgas akan diperuntukkan memasang listrik dan air bersih.
Namun, Aris mengaku bingung lantaran pihak PLN dan PDAM diketahui akan menyumbang untuk pemasangan listrik dan air.
”Kemarin juga kami bicara dengan PLN dan PDAM. Mereka akan bantu masukkan donasi pemasangan listrik dan air,” ucap Aris.
ANGGARAN RUMAH DAN PROGRES PEMBANGUNAN FISIK
Aris mengeklaim satu unit rumah menghabiskan Rp115 juta. Saat ini, progres pembangunan sekitar 45 persen.

Kepala Desa Rembitan, Lalu Minaksa, mengungkapkan total dana yang saat ini berada dalam pengelolaan masyarakat diperkirakan mencapai sekitar Rp2,5 miliar. Jumlah tersebut belum termasuk bantuan dalam bentuk material maupun pembangunan fasilitas dari sejumlah donatur lainnya.
Bantuan yang terkumpul mulai dimanfaatkan untuk mempercepat pembangunan kembali rumah warga. Hingga kini, sebanyak 49 unit rumah sudah mulai dibangun. Sebagian rumah telah memiliki atap, sedangkan beberapa lainnya masih dalam tahap pemasangan tiang.
”Masih ada sekitar 10 bangunan rumah yang belum mulai dibangun,” ungkap Minaksa.
Selain rumah, dua unit berugak sekenem telah selesai dibangun. Pembangunan masjid dan museum di kawasan Desa Adat Sade juga masih berlangsung.
TRANSPARANSI DANA REKENING SATGAS
Dihubungi terpisah, Ketua Satgas Pemulihan dan Penataan Desa Adat Sade, Lalu Moh. Faozal, mengatakan dana bantuan yang masuk melalui satgas pemerintah dapat dipantau melalui rekening penampungan yang dikelola Bank NTB Syariah.
“Ada juga sumbangan yang masuk melalui rekening penampungan Dusun Sade di luar satgas,” jelas Faozal.
Berdasarkan laporan, kata Faozal, saldo rekening penampungan per 1 Oktober, mencapai Rp1.913.566.194.
Jumlah tersebut mengalami peningkatan sebesar Rp765.011.000 dari saldo sebelumnya yang tercatat Rp1.148.555.194.
Faozal menyebut sejumlah donasi dalam jumlah besar masuk pada periode tersebut. Di antaranya dari Kawula Madani sebesar Rp500 juta dan Widiyanti Putri sebesar Rp265 juta.
”Pengelolaan untuk masing-masing donasi disesuaikan dengan peruntukan yang disepakati,” ujar Faozal.
INISIATIF SWADAYA WARGA, DONASI PIHAK KETIGA DIPAKAI BANGUN RUMAH
Sementara itu, Kepala Dusun Sade, Endap, mengatakan masyarakat memilih menggunakan sebagian bantuan pihak ketiga untuk pembangunan rumah lantaran warga membutuhkan tempat tinggal.
Menurutnya, bantuan yang semula diperuntukkan bagi kebutuhan sandang dan pangan dialihkan untuk pembangunan karena kondisi masyarakat yang belum memiliki rumah.
“Karena tidak ada rumah, jadinya kami berinisiatif untuk membangun pakai itu,” ujarnya.
Endap mengatakan masyarakat tidak bisa terlalu lama menunggu kepastian pembangunan dari pemerintah. Sebab, jika menunggu hingga anggaran pemerintah tersedia, pembangunan dikhawatirkan baru dapat dilakukan tahun depan.
Karena itu, pembangunan dilakukan menggunakan bantuan yang sudah tersedia sembari menunggu dukungan anggaran pemerintah.
“Kalau menunggu pemerintah terlalu lama, kemungkinan tahun depan baru bisa dibangun. Sehingga kami menggunakan bantuan itu untuk membangun,” katanya.
Dia menegaskan seluruh bantuan yang diterima akan dicatat oleh pengelola Dusun Sade. Pencatatan tersebut mencakup bantuan mulai dari nominal kecil hingga sumbangan dalam jumlah besar.
Selain bantuan yang telah diterima, masih terdapat sejumlah bantuan yang belum masuk ke rekening. Termasuk bantuan dari kementerian yang sebelumnya diterima secara simbolis di Jakarta serta bantuan dari sejumlah pihak lainnya.
Endap berharap seluruh bantuan yang telah dijanjikan segera terealisasi sehingga pembangunan kembali Desa Adat Sade dapat segera dituntaskan.
“Kalau itu semua masuk, sudah selesai pembangunan Sade,” pungkasnya.
Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Dusun Adat Sade, Sanah Ardinata, mengungkapkan pembangunan Dusun Sade dilakukan secara swadaya dan gotong royong.
”Tapi juga ada donasi dari berbagai pihak sebagai pendanaan. Namun, capaian untuk per unit rumah yang dibangun baru mencapai 40-50 persen,” ucap Ardinata.
Dia menegaskan tidak ada kendala yang berarti dalam pembangunan. Namun, warga membutuhkan biaya untuk menyelesaikan pembangunan rumah mereka. (wan/dik)


