Tekan Risiko Stunting Sejak Dini, Pemkab Loteng Petakan 35 Ribu Pasangan Usia Subur secara By Name By Address - Koran Mandalika

Tekan Risiko Stunting Sejak Dini, Pemkab Loteng Petakan 35 Ribu Pasangan Usia Subur secara By Name By Address

Rabu, 28 Oktober 2026 - 16:09

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tekan Risiko Stunting Sejak Dini, Pemkab Loteng Petakan 35 Ribu Pasangan Usia Subur secara By Name By Address

Koran Mandalika, Lombok Tengah – Sekitar 35 ribu pasangan usia subur di Kabupaten Lombok Tengah masuk kategori keluarga berisiko stunting. Pemerintah daerah kini memperkuat pendampingan untuk mengidentifikasi faktor risiko pada keluarga tersebut, sekaligus mencegah munculnya kasus stunting baru.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Lombok Tengah, H. Kusriadi, S.K.M., M.Si., mengatakan, puluhan ribu pasangan tersebut menjadi sasaran edukasi dan pemantauan melalui Tim Pendamping Keluarga.

Menurutnya, pendataan lebih terperinci diperlukan agar pemerintah mengetahui kondisi setiap keluarga, termasuk faktor yang membuat mereka rentan mengalami masalah pertumbuhan anak. Faktor tersebut antara lain pernikahan usia anak, kehamilan pada usia di atas 35 tahun, jumlah anak yang banyak, serta keterbatasan akses terhadap sanitasi layak.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Kami ingin memetakan sekitar 35 ribu pasangan ini secara by name by address, sehingga diketahui kondisi masing-masing keluarga dan faktor risiko yang mereka hadapi,” kata Kusriadi.

Baca Juga :  ‎Miras saat Pawai Ogoh-ogoh jadi Sorotan, Begini Imbauan Gubernur NTB

Ia menjelaskan, pendampingan dilakukan melalui 2.391 tenaga pendamping keluarga yang tersebar di Lombok Tengah. Setiap tim terdiri atas tiga orang, yakni tenaga kesehatan, kader keluarga berencana, dan kader lainnya yang bekerja bersama mendatangi keluarga sasaran.

Pendampingan tersebut tidak hanya berupa penyuluhan, tetapi juga mengarahkan keluarga untuk mengambil langkah pencegahan sesuai kondisi masing-masing.

Pasangan yang menikah pada usia anak, misalnya, diberikan edukasi mengenai perencanaan kehamilan. Sementara ibu hamil dipantau secara berkala agar kondisi ibu dan pertumbuhan janin dapat diketahui sejak dini.

Kusriadi menilai, pemetaan yang akurat menjadi kunci agar program pencegahan tidak berjalan secara umum tanpa mengetahui kebutuhan keluarga. Melalui pendataan dan pemantauan berkala, pemerintah dapat melihat apakah faktor risiko yang dihadapi keluarga mengalami perubahan.

Baca Juga :  Akhirnya, RSUP NTB Terbebas dari Utang Kontraktual

“Dalam konteks pencegahan, pendekatan kami lebih kepada edukasi. Keluarga yang berisiko ini harus terus didampingi dan dipantau perkembangannya,” ujarnya.

Selain faktor kesehatan, ia menyoroti pernikahan usia anak yang dinilai masih menjadi pekerjaan rumah bersama. Menurutnya, kesiapan fisik, mental, dan kemampuan mengasuh anak turut memengaruhi kondisi keluarga setelah memiliki keturunan.

Karena itu, upaya menekan risiko stunting membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari tenaga kesehatan, pemerintah desa, hingga lembaga pendidikan dan Kementerian Agama. Pendampingan keluarga juga perlu disertai perhatian terhadap kondisi sosial dan lingkungan tempat tinggal.

Kusriadi berharap, pemetaan terhadap 35 ribu pasangan usia subur tersebut dapat membantu pemerintah menentukan langkah pencegahan yang lebih tepat sasaran. Dengan begitu, keluarga yang rentan bisa memperoleh pendampingan lebih awal sebelum risiko berdampak pada pertumbuhan anak. (my)

Berita Terkait

Optimisme Lombok Tengah Bebas Stunting: Intervensi Berkelanjutan Menyasar Sanitasi Hingga Pernikahan Dini
DP3AP2KB Loteng Dorong Edukasi Reproduksi bagi Santri
Perluas Ekosistem Transaksi Digital, Bank NTB Syariah Dekatkan Layanan Perbankan kepada Masyarakat Dompu
Petani Tembakau Loteng Tuntut Hak, Pemprov NTB Janji Evaluasi
DP3AP2KB Loteng Minta Pengawasan Ponpes Diperketat
Teka-teki Lokasi Makodam Rinambora: Mengapa Lombok Tengah Jadi Alternatif Kuat?
15 Ribu Kasus Katarak di NTB, Kadinkes: Berpotensi Terus Bertambah
Petani di Lombok Timur Diciduk! 1.734 Liter Pertalite Subsidi Disita Polisi Saat Digerebek di Rumahnya

Berita Terkait

Rabu, 28 Oktober 2026 - 18:02

PTPP Raih KESGI Award 2026, Perkuat Kepemimpinan dalam Penerapan ESG

Rabu, 28 Oktober 2026 - 18:02

Semangat Sumpah Pemuda, KAI Daop 2 Bandung Hadirkan Rail Clinic untuk Layani Kesehatan Gratis Warga Rancaekek

Rabu, 28 Oktober 2026 - 18:02

PLN NPC Raih Penghargaan Top GRC Awards 2026, Perkuat Komitmen Tata Kelola dan Keberlanjutan Bisnis

Rabu, 28 Oktober 2026 - 16:02

LRT Jabodebek Hadirkan Pengalaman Edukatif di Tengah Mobilitas Masyarakat

Rabu, 28 Oktober 2026 - 16:02

KAI Logistik Tingkatkan Kemudahan Layanan Pelanggan melalui Fitur Live Chat pada Aplikasi KAI Logistik TRAX

Rabu, 28 Oktober 2026 - 16:02

BRI BO Kutoarjo Gelar Upacara Hari Sumpah Pemuda ke-98, Perkuat Nasionalisme dan Semangat BRILiaN

Rabu, 28 Oktober 2026 - 15:02

Perkuat Sinergi dengan Agen BRILink, BRI Klaten Dorong Akses Layanan Keuangan yang Lebih Dekat dengan Masyarakat

Rabu, 28 Oktober 2026 - 15:02

Bank Mandiri Taspen dan UI Teken Nota Kesepahaman, Perkuat Kolaborasi Perbankan dan Pendidikan

Berita Terbaru