Stres di Tempat Kerja Picu Merokok? Kenali Gejalanya dan Alternatif Mengatasinya - Koran Mandalika

Stres di Tempat Kerja Picu Merokok? Kenali Gejalanya dan Alternatif Mengatasinya

Senin, 28 Oktober 2024 - 13:27

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tuntutan lingkungan kerja yang tinggi berkorelasi terhadap masalah kesehatan mental. Kondisi tersebut berpotensi mendorong seseorang untuk terus melakukan kebiasaan berisiko, salah satunya merokok dengan alasan untuk mengurangi stres. Kebiasaan buruk tersebut dapat ditekan dengan menerapkan konsep pengurangan risiko bagi perokok dewasa melalui pemanfaatan produk tembakau alternatif seperti vape, produk tembakau yang dipanaskan, maupun kantong nikotin.

Jakarta – Tuntutan lingkungan kerja yang tinggi berkorelasi
terhadap masalah kesehatan mental. Kondisi tersebut berpotensi mendorong
seseorang untuk terus melakukan kebiasaan berisiko, salah satunya merokok
dengan alasan untuk mengurangi stres. Kebiasaan buruk tersebut dapat ditekan
dengan menerapkan konsep pengurangan risiko bagi perokok dewasa melalui
pemanfaatan produk tembakau alternatif seperti vape, produk tembakau yang
dipanaskan, maupun kantong nikotin.

Psikolog, Sukmayanti Rafisukmawan, M.Psi, Psikolog, menjelaskan lingkungan
kerja dengan tekanan yang tinggi memicu seseorang untuk mengalami kesehatan
mental, salah satunya stres. Seseorang yang dalam posisi stres akan berusaha
mencapai keadaan seimbang dengan melakukan coping mechanism, yakni
kebiasaan berisiko untuk kesehatan fisik ataupun mental. Contohnya, makan
ketika sedang stres, mengonsumsi kafein hingga menjadi kekurangan tidur, konsumsi
alkohol berlebihan, dan kebiasaan merokok.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Bicara soal kesehatan mental itu sesuatu yang tidak
sederhana. Itu cukup kompleks. Jadi dibutuhkan adanya edukasi, advokasi, serta koordinasi
dengan berbagai sektor. baik publik ataupun swasta, masyarakat, dan tenaga
kesehatan,” kata Sukmayanti saat menjadi narasumber dalam diskusi yang
digelar Masyarakat Sadar Risiko Indonesia (MASINDO) dengan tema “Membangun
Kesadaran Risiko Kesehatan Mental” kemarin.

Baca Juga :  Kelebihan dan Kekurangan Pinjam Uang ke Teman

Untuk mengurangi kebiasaan buruk akibat stres di tempat
kerja, Sukmayanti menilai perlu adanya penguatan literasi terhadap masyarakat
mengenai konsep pengurangan risiko. Penerapan dari konsep tersebut seperti
menerapkan pola hidup yang sehat. Contohnya mengonsumsi sayur dan buah, mengurangi
konsumsi kopi dengan gula yang berlebihan secara perlahan, maupun beralih ke
produk-produk tembakau alternatif bagi pekerja yang kesulitan untuk mengurangi
kebiasaan merokok.

Kalau berhenti merokok secara langsung, Sukmayanti
meneruskan, perokok akan mengalami gejala relapse. Hal tersebut akan
memunculkan kegelisahan dan membuat seseorang tidak bisa berkonsentrasi. “Untuk
yang merokok, memang sangat sulit untuk berhenti total, malah akan
mengakibatkan gejala-gejala yang lebih buruk. Oleh sebab itu, perlu mengurangi
kebiasaan berisiko tersebut secara perlahan dengan menggunakan produk-produk
yang telah terbukti secara ilmiah menurunkan risiko kesehatan seperti rokok
elektronik dan produk tembakau yang dipanaskan sambil terus melakukan konseling
dengan psikolog ,” jelas Sukmayanti.

Dalam kesempatan yang
sama, Pakar Kesehatan Publik dan Ahli Kesehatan Keselamatan Kerja, dr. Felosofa
Fitrya, MMR, menambahkan sebagian besar waktu produktif orang dewasa dihabiskan
di tempat kerja. Mengutip laporan Badan Kesehatan Dunia (WHO), kata Felosofa, sekitar
15% dari pekerja secara global mengalami gangguan mental. Situasi tersebut
menyebabkan penurunan produktivitas, peningkatan absensi, dan eskalasi biaya
kesehatan.

Baca Juga :  Lovina untuk Slow Traveler: Hot Springs, Vihara, dan Alasan Orang Tidak Mau Buru-Buru Pulang

“Ketidakseimbangan beban kerja merupakan penyebab utama burnout.
Hasil studi mengungkapkan bahwa pekerja dengan beban kerja tinggi dan high
effort-reward imbalance
lebih rentan terhadap kebiasaan buruk seperti merokok
dan pola makan tidak sehat sebagai pelarian dari stres,” kata Felosofa. 

Felosofa menekankan pentingnya pendekatan pengurangan
risiko kesehatan mental di tempat kerja. Perusahaan perlu menyediakan layanan
konseling gratis seperti program Employee Assistance Program (EAP) untuk
membantu karyawan menghadapi tekanan di lingkungan kerja. Dari sisi karyawan,
mereka dapat mulai mengidentifikasi kebiasaan-kebiasaan berisiko akibat tekanan
pekerjaan seperti konsumsi makanan dengan nutrisi yang tidak seimbang, minim
aktivitas fisik, hingga kebiasaan merokok. Dengan begitu, para pekerja bakal lebih
memperhatikan kesehatannya, baik fisik maupun mental, dan secara sadar membuat
pilihan berdasarkan pertimbangan aspek pengurangan risiko.

“Ketika konseling dengan karyawan yang mengalami stres
tinggi, kami selalu mengajarkan untuk self-healing dengan menyadari
napas dan hasilnya cukup positif. Adapun pada karyawan yang stres dan larinya merokok,
kami selalu menyarankan untuk beralih ke produk yang menerapkan pengurangan
risiko seperti rokok elektronik dan produk tembakau yang dipanaskan karena
tidak menghasilkan TAR sehingga bisa mengurangi risiko bahaya kesehatan,” tutup
Felosofa.

Berita Terkait

LRT Jabodebek Lakukan Uji Coba Perjalanan 05.30 WIB untuk Dukung Pengguna Whoosh Keberangkatan Pagi
Pesan Balasan WhatsApp Jadi Berbayar, Masih Worth It Kah? Begini Cara Hitungnya
Akulaku Finance Bersama BAZNAS RI Salurkan Bantuan Kemanusiaan untuk Masyarakat Terdampak Gempa NTT
MIND ID Jadi Motor Optimasi Penerimaan Negara dalam Pengelolaan Mineral Nasional
CLARITY Act Tertahan di Senat AS, Bittime Soroti Peluang di Tengah Perkembangan Regulasi Aset Digital Global
Cicilan Sudah Lunas, Bisakah Punya Cicilan Lagi?
Banyak Pelaku Usaha Baru Tahu Ada Layanan Ini, Akses Kesehatan Lintas Negara Jadi Sorotan di BNI National Conference 2026
Bittime Futures Soroti Lonjakan Aktivitas Derivatives di Tengah Tren Pasar

Berita Terkait

Kamis, 17 September 2026 - 08:54

Pemprov NTB Optimistis Capai Target Pendapatan dan Perbaiki Tata Kelola APBD Perubahan 2026

Rabu, 16 September 2026 - 11:07

Proyek Seaplane Bendungan Batujai Mundur dari Target

Selasa, 15 September 2026 - 19:08

Gubernur NTB : Harus Memiliki Komitmen Jangka Panjang dan Belajar Pada Perusahaan Tempat Bekerja

Selasa, 15 September 2026 - 14:00

Usai Insiden di Loteng, SPPG dan Mitra Diminta Perhatikan Aturan

Selasa, 15 September 2026 - 13:02

MBG Bikin Geger, SPPG Lombok Tengah Mekar Bersatu kena “Kartu Merah”

Senin, 14 September 2026 - 19:41

Sejak Januari hingga September 2026 Tercatat 3.517 Kasus GHPR di NTB, 4 Meninggal

Minggu, 13 September 2026 - 18:13

DPRD Terima Penjelasan Pemprov Tentang Perubahan APBD 2026

Minggu, 13 September 2026 - 12:12

NTB Bangun Kapasitas, Dari Pendampingan Menuju Mandiri: Bypass Otak Kini Bisa Dilakukan di RSUD Provinsi

Berita Terbaru