Koran Mandalika, Lombok Tengah – Pertanian tembakau di Lombok Tengah menunjukan trend positif berdasarkan nilai jual ke perusahaan pada tahun 2026.
Hal tersebut disampaikan oleh Plt. Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Lombok Tengah, Zainal Arifin.
Zainal mengatakan, hasil panen petani tembakau seluruhnya terserap oleh perusahaan dengan harga yang bervariatif sesuai grade atau kualitasnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun, Zainal tidak merincikan berapa harga yang dibayarkan dari setiap tingkatan kualitas tembakau.
“Pasti terserap. Ada grade, kalau enggak salah itu grade sampai 42 grade,” kata Zainal, Jumat (6/11).
Terlebih, perusahaan tidak memilih tingkatan kualitas mana yang akan diambil. Artinya, semua tingkatan masuk, mulai dari terendah hingga tertinggi.
“Tapi sekarang ini, grade terendah pun dibeli. Kalau dulu kan pilih-pilih, kalau sekarang semua dibeli,” ucapnya.
Zainal menjelaskan sejauh ini tidak ada keluhan yang disampaikan oleh para petani tembakau.
Menurutnya, keberhasilan petani tembakau tidak terlepas dari hasil kerja mereka. Sehingga, wajar jika para petani menikmati hasil yang sepadan.
“Tetap yang paling utama itu mereka selaku petani. Kalau kami kan hanya sebagai jembatan lah,” ujarnya.
Zainal membeberkan luas lahan pertanian tembakau saat ini di Lombok Tengah sebanyak 15 ribu hektare.
Sedangkan untuk perkiraan produksi berdasarkan pendekatan pada hasil tembakau oven atau omprong, sebanyak 2 ton per hektare.
“Kita selalu pendekatannya omprong, kita tidak pendekatannya yang rajang. Pendekatan omprong itu untuk daun kering kita asumsikan 2 ton per hektare daun kering,” bebernya. (dik)






