Bersama Petani Lokal Memulihkan Lahan Rusak Jadi Sumber Kehidupan - Koran Mandalika

Bersama Petani Lokal Memulihkan Lahan Rusak Jadi Sumber Kehidupan

Senin, 21 Juli 2025 - 22:20

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Karawang, 21 Juli 2025 — Tidak semua orang memilih jalan yang mudah. Ada yang tetap percaya pada kekuatan satu bibit kecil, meski berkali-kali dihantam gelombang pasang, kehilangan, dan disebut sia-sia.

Di pesisir Dusun Tangkolak, Kabupaten Karawang, dua sosok sederhana bernama Dayanto dan Slamet Abadi menjadi bagian dari cerita yang membuktikan bahwa menjaga alam bukan hanya tentang masa kini, tetapi tentang warisan yang ingin mereka tinggalkan untuk masa depan.

Tahun 2020 menjadi momen menyedihkan bagi Tangkolak. Gelombang besar menerjang kawasan ini dan merusak destinasi wisata pantai mangrove yang dulunya menjadi kebanggaan warga. Lebih dari 100 ribu pohon mangrove musnah.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sekitar 1,2 kilometer garis pantai rusak parah, dan lima hektare hutan mangrove tenggelam. Padahal, dulu kawasan ini hijau dan penuh tambak.

“Saya teringat dulu Tangkolak ini hutan mangrove-nya luas, tambaknya juga enggak sedikit. Sekarang tinggal beberapa, dan hutan mangrovenya itu tipis,” kenang Dayanto, warga asli yang kini mendedikasikan hidupnya untuk memulihkan kawasan tersebut.

Dulunya, Dayanto bukanlah penjaga alam. Ia justru sempat menjadi perusak, menyelam dengan kompresor dan mengambil terumbu karang serta ikan hias dari laut. Ia mengakui bahwa awalnya, peringatan tentang pentingnya menjaga keanekaragaman hayati tidak ia gubris.

Baca Juga :  IAC Sesalkan Putusan Banding Paten Lenacapavir: Akses ke Obat HIV Generasi Baru Masih Terkendala

Sampai pada satu titik, ia berpikir jauh ke depan, bahwa jika terus merusak, anak cucunya kelak tidak akan mewarisi laut yang sama. Kesadaran itu mengubah arah hidupnya. Sejak 2014, ia mulai menanam mangrove bersama Kelompok Kreasi Alam Bahari. Dari pembibitan, penyulaman, hingga membersihkan sampah saat musim rob datang, ia lakukan tanpa pamrih. Tujuannya hanya satu: menyelamatkan kampung halamannya dari abrasi.

Dayanto sosok penghijau dari Pesisir Tangkolak

Dayanto dan kelompoknya kini memusatkan perhatian pada penanaman tiga jenis bibit mangrove: bakau, api-api lanang, dan api-api wadon. Ketiganya ditanam untuk membentuk sabuk hijau alami yang bisa melindungi garis pantai dari kerusakan lebih lanjut. Tapi perjuangan ini tentu tidak bisa dilakukan sendiri.

Slamet Abadi, penggerak dalam upaya penghijauan Pesisir Tangkolak.

Ia dibantu oleh Slamet Abadi, seorang dosen dari Universitas Singaperbangsa Karawang (UNSIKA), yang sejak 2015 aktif turun ke Tangkolak lewat gerakan Unsika Peduli Mangrove. Bagi Slamet, keterlibatan ini adalah bagian dari tri dharma perguruan tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat.

Berbagai upaya dilakukan, termasuk merancang metode tanam yang efektif agar mangrove tidak kembali rusak akibat rob. Dari pengalaman selama dua tahun pertama yang selalu gagal, Slamet dan tim akhirnya menemukan metode “rumpun berjarak” sebagai solusi. Cara ini membuat bibit bisa tumbuh lebih kuat meski diterjang air pasang. Baginya, perjuangan ini bukan soal keuntungan materi.

Baca Juga :  ESR dan INA Perluas Kemitraan untuk Pengembangan Logistik Baru di Indonesia

“Kami tidak punya lahan, tapi kami punya akses dan kemauan untuk menanam. Kami ingin Karawang tetap punya oksigen, punya mangrove yang sehat,” tegas Slamet.

Namun, upaya mereka menghadapi tantangan berat. Salah satunya adalah sampah yang terbawa dari hulu Sungai Citarum hingga ke kawasan mangrove Tangkolak. Sampah ini menumpuk di akar-akar muda dan sering kali membuat pohon mangrove mati sebelum sempat tumbuh besar. Slamet pun mengingatkan masyarakat untuk berhenti membuang sampah ke sungai, karena dampaknya sangat nyata dan merusak kerja keras banyak pihak.

Meski begitu, semangat mereka belum padam. Dayanto berharap program ini terus mendapat dukungan, baik dari lembaga seperti LindungiHutan maupun masyarakat luas.

“Tolong jangan tinggalin kami. Kami masih butuh bimbingan, butuh perhatian,” ujarnya.

Di tengah kerusakan dan ketidakpastian, kisah Dayanto dan Slamet adalah pengingat bahwa alam bisa pulih jika dijaga bersama. Bahwa tanah yang dulu rusak, bisa kembali menjadi sumber kehidupan, asal ada keyakinan, ketekunan, dan keberanian untuk memulainya.

Berita Terkait

Bitcoin Tembus US$87.000, Seberapa Tinggi BTC Bisa Melaju?
Alita Gandeng Fujitsu Bawa Teknologi Analitik Gerak Berbasis AI ke Indonesia
Chat dari Iklan WhatsApp Bisa Gratis 72 Jam, Ini Cara Maksimalkannya
Tampil di Tech in Asia Conference 2026 Singapura, Sanct Besutan Founder Indonesia Temui 78 Pengunjung dan Buka Pembicaraan Kolaborasi dengan Komunitas Kesehatan Mental
Prodia Hadirkan ‘Advanced Lipid Profile’, Pemeriksaan Risiko Kardiovaskular yang Lebih Komprehensif dan Personal
5 Hal yang Membuat Kamu Sulit Membayar Cicilan
FLOQ Listing PONS dari Robinhood Chain, Kenali Fungsi dan Ekosistemnya
Penyebab Dokumen Bertanda Tangan Elektronik Ditolak Mitra atau Bank

Berita Terkait

Senin, 21 September 2026 - 18:54

PPPK Paruh Waktu Menanti Kepastian Jadi ASN, BKN: Masih Tahap Pematangan

Senin, 21 September 2026 - 17:47

Gemilang di Semarang, NTB Naik ke Peringkat 9 MTQ Nasional

Jumat, 18 September 2026 - 13:16

Alasan Dana Bansos NTB Naik, Kadinsos P3A: Rp36,11 Miliar untuk Desa Berdaya

Kamis, 17 September 2026 - 18:59

Gubernur NTB: Konektivitas Jadi Urat Nadi Pembangunan

Kamis, 17 September 2026 - 17:07

Inspektorat Review Pokir DPRD NTB, Muzihir: Kita Terima, Daripada Berurusan dengan KPK

Kamis, 17 September 2026 - 10:50

DPRD NTB Soroti Rebutan Penumpang di Kuta Mandalika, Pemkab Diminta Cari Solusi

Kamis, 17 September 2026 - 08:54

Pemprov NTB Optimistis Capai Target Pendapatan dan Perbaiki Tata Kelola APBD Perubahan 2026

Rabu, 16 September 2026 - 22:43

Betabeq Jadi Pembuka, ITDC Minta Doa Restu Sambut MotoGP Mandalika

Berita Terbaru

Teknologi

Bitcoin Tembus US$87.000, Seberapa Tinggi BTC Bisa Melaju?

Selasa, 22 Sep 2026 - 10:02