KAI Logistik Catat Pertumbuhan Angkutan Reefer Lebih dari 30%, Perkuat Rantai Pasok Cold Chain Nasiona - Koran Mandalika

KAI Logistik Catat Pertumbuhan Angkutan Reefer Lebih dari 30%, Perkuat Rantai Pasok Cold Chain Nasiona

Selasa, 30 Juni 2026 - 18:00

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

PT Kereta Api Logistik (KAI Logistik) terus memperkuat perannya dalam mendukung rantai pasok berpendingin (cold chain) nasional melalui layanan angkutan reefer berbasis kereta api. Hingga Mei 2026, KAI Logistik berhasil mengangkut sekitar 9.352 teus komoditas berpendingin, meningkat 39% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pencapaian tersebut mencerminkan meningkatnya kebutuhan industri terhadap sistem logistik yang mampu menjaga kualitas, keamanan, dan kesegaran produk selama proses distribusi. Melalui layanan reefer container, KAI Logistik mendukung distribusi berbagai komoditas yang memerlukan pengendalian suhu, mulai dari produk pangan segar dan olahan, hasil perikanan, hingga produk farmasi yang sensitif terhadap perubahan temperatur.

VP of Commercial KAI Logistik, Ferdian Pardosi menyampaikan bahwa pertumbuhan volume angkutan reefer menunjukkan semakin tingginya kepercayaan pelanggan terhadap moda kereta api sebagai solusi logistik cold chain yang andal, efisien, dan berkelanjutan. “Cold chain merupakan salah satu elemen penting dalam menjaga kualitas produk hingga sampai ke tangan konsumen. Pertumbuhan angkutan reefer yang kami catat hingga Mei 2026 menjadi indikator bahwa kebutuhan akan layanan logistik berpendingin terus meningkat seiring berkembangnya industri pangan, perikanan, hingga farmasi di Indonesia,” ujar Ferdian.

Sejalan dengan pertumbuhan kinerja angkutan reefer KAI Logistik, prospek industri cold chain nasional juga menunjukkan potensi yang menjanjikan. Indonesia Cold Chain Logistics Market diperkirakan tumbuh dari USD 7,19 miliar pada 2025 menjadi USD 7,51 miliar pada 2026, dan mencapai USD 9,24 miliar pada 2031, dengan CAGR 4,23% sepanjang periode 2026–2031 . Proyeksi tersebut mencerminkan meningkatnya kebutuhan rantai pasok berpendingin di berbagai sektor strategis, mulai dari pangan, perikanan, agribisnis, hingga farmasi. Kondisi ini membuka peluang bagi pengembangan layanan logistik berbasis kereta api yang mampu menghadirkan distribusi berpendingin yang lebih andal, efisien, dan berkelanjutan.

Di sisi lain, pengembangan cold chain masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari keterbatasan infrastruktur cold storage di berbagai wilayah, biaya operasional yang relatif tinggi, kebutuhan pasokan energi yang stabil, hingga kompleksitas pengelolaan suhu selama proses distribusi. Sebagai negara tropis dan kepulauan, menjaga integritas suhu produk dari titik produksi hingga konsumen menjadi tantangan tersendiri yang membutuhkan kolaborasi berbagai pihak dalam rantai pasok.

Dalam konteks tersebut, moda kereta api menawarkan keunggulan berupa kapasitas angkut yang besar, jadwal operasional yang terukur, serta efisiensi distribusi jarak menengah hingga jauh. Pemanfaatan reefer container pada jaringan kereta api juga membantu menjaga stabilitas suhu produk selama perjalanan sekaligus mendukung upaya pengurangan emisi dibandingkan distribusi berbasis jalan raya.

Baca Juga :  Apa itu Training Sertifikasi PPLB3 Energy Academy?

KAI Logistik tidak hanya menghadirkan layanan transportasi berpendingin, tetapi juga membangun ekosistem pendukung yang memastikan keberlangsungan rantai dingin secara menyeluruh. Melalui penyediaan fasilitas plug in reefer container di terminal-terminal operasional, KAI Logistik memastikan unit kontainer berpendingin tetap memperoleh suplai daya listrik selama berada di area terminal. Dukungan infrastruktur tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas, kesegaran, dan keamanan komoditas yang diangkut, sekaligus memberikan keandalan layanan bagi pelanggan yang bergerak di sektor pangan, perikanan, maupun produk sensitif suhu lainnya.

“Ke depan, KAI Logistik akan terus mengembangkan layanan cold chain terintegrasi guna menjawab kebutuhan industri yang semakin berkembang. Perusahaan optimistis bahwa penguatan ekosistem logistik berpendingin tidak hanya mendukung ketahanan pangan nasional, tetapi juga meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar domestik maupun global,” tutup Ferdian.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Berita Terkait

Transaksi Kripto Indonesia Naik 12,87 Persen, Apa yang Mendorongnya?
Sinergi UGM, Sanggabiz, dan Komunitas Lokal: Mewujudkan Modernisasi Wellness Tourism Desa Sidorejo Berbasis Manuskrip Kuno Pawukon
Tak Harus Jadi Komika, Zie Brb Ajak Pembaca Mencoba Stand-up Comedy lewat Buku Pertamanya
Gempa Mengguncang, Mutu Tulangan Beton Ikut Diuji
PTPP Raih Kontrak Baru Rp9,3 Triliun hingga Agustus 2026
BRILiaN Culture Festival BRI Region 6, Lomba Bola Voli Jadi Ajang Perkuat Kekompakan Pekerja
Lewat BRILiaN Culture Festival, BO Segitiga Senen Tumbuhkan Semangat Kebersamaan dan Budaya Kerja
Ekspor Timur Tengah Naik, Harga WTI Berpotensi Lanjut Turun

Berita Terkait

Jumat, 31 Juli 2026 - 06:28

Uang Rp50 Ribu Jadi Umpan, 7 Anak Jonggat Diduga Jadi Korban

Rabu, 3 Juni 2026 - 16:12

Korupsi Pengadaan Dump Truck dan Arm Roll DLH Lombok Tengah, Empat Tersangka Resmi Ditahan

Senin, 25 Mei 2026 - 19:42

Hutang Berujung Maut, Penyidik Satreskrim Polresta Mataram Tetapkan Satu Tersangka

Rabu, 20 Mei 2026 - 19:01

Ahli Pidana dari JPU Sebut Pasal Gratifikasi Tidak Bisa Menjerat Pemberi

Jumat, 15 Mei 2026 - 11:58

Suliadi Protes Tuntutan Berat Kasus Sewa Tower: Saya Hanya Warga Biasa

Selasa, 5 Mei 2026 - 14:53

Sekda Lombok Tengah Jadi Saksi, Jaksa Dalami Dugaan Korupsi Dump Truck

Selasa, 5 Mei 2026 - 10:05

Sekda Lombok Tengah Dipanggil Jaksa, Pemeriksaan Berkaitan dengan Kasus Dump Truck?

Selasa, 28 April 2026 - 08:42

Personel Berprestasi Diguyur Penghargaan, Kapolres Lombok Tengah: Jangan Cepat Puas!

Berita Terbaru

Teknologi

Gempa Mengguncang, Mutu Tulangan Beton Ikut Diuji

Selasa, 6 Okt 2026 - 15:02

Teknologi

PTPP Raih Kontrak Baru Rp9,3 Triliun hingga Agustus 2026

Selasa, 6 Okt 2026 - 15:02