Koran Mandalika, Mataram – Dalam rangka menyambut hari kemerdekaan Republik Indonesia ke 81, ribuan masyarakat serta tokoh-tokoh lintas agama menggelar doa bersama di Taman Sangkareang, Kota Mataram.
Kegiatan tersebut juga dihadiri oleh Utusan Khusus Presiden Miftah Maulana Habiburrahman atau Gus Miftah, Wakil Ketua DPR RI Sari Yuliati, Wakil Gubernur NTB Indah Dhamayanti Putri, serta Wali Kota Mataram Mohan Roliskana.
Kegiatan ini diinisiasi oleh Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Nusa Tenggara Barat sebagai simbol kerukunan umat beragama di NTB.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Pada kesempatan itu, Utusan Khusus Presiden, Gus Miftah menyampaikan bahwa umat beragama di Indonesia bebas melakukan ibadah tanpa gangguan. Hal itu, kata dia, telah diatur dalam Undang-Undang Dasar 1994.
“Dalam konteks panca sila semua agama yang diakui oleh undang-undang berhak menjalankan ibadah agamanya tanpa gangguan dari pihak manapun,” katanya, Rabu (12/8) malam.
Jadi, lanjut dia, perbedaan agama jangan dijadikan sebagai permusuhan. Dia menganalogikan perbedaan agama di Indonesia sebagai kamar yang dimiliki masing-masing orang.
“Kalau orang Indonesia masuk ke kamar masing-masing, Indonesia akan baik-baik saja. Yang perlu kita lakukan jangan masuk ke kamar orang lain. Tapi yang kita lakukan, ciptakan ruang tamu bersama,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Kanwil Kemenag NTB, Zamroni Aziz, memberikan apresiasi kepada Gus Miftah sebagai utusan presiden yang menyempatkan diri untuk menghadiri kegiatan tersebut.
Zamroni menyampaikan masyarakat lintas agama yang hadir pada acara tersebut membuktikan keharmonisan umat beragama di NTB serta kecintaan terhadap tanah air.
“NTB ini hampir semua agama ada. Dan hari ini duduk dengan indah karena satu lumbung satu gerakan, Indonesia yang kita cintai,” ucapnya.
Ia memastikan NTB menjadi daerah yang memberikan kenyamanan beribadah bagi umat beragama.
“Insyaallah hari ini tidak ada umat yang tidak melaksanakan ibadah dengan aman. Karena tentu NTB daerah yang aman dan nyaman,” ujarnya.
Wakil ketua DPR RI Sari Yuliati, mengatakan NTB khususnya Pulau Lombok dengan keberagaman agama dapat menjadi contoh kerukunan umat beragama.
“Saya sangat meyaikini Lombok mampu menjadi contoh keberagaman, menjadi pondasi persatuan. Saya yakin kekuatan indonesia tidak lahir dari keseragaman. Indonesia menjadi kuat justru karena mampu menyatukan berbagai perbedaan,” katanya.
Ia menuturkan meski NTB memiliki berbagai macam suku serta agama, namun harus tetap satu tujuan yakni membangun bangsa.
“Kita boleh beda suku, agama, atau pemikiran. Tetapi, kita memilik satu tujuan membangun Indonesia lebih maju,” pungkasnya. (dik)






