ASEAN Rumuskan Profil Pembiayaan Karbon Biru Perdana sebagai Langkah Strategis Ekonomi Biru - Koran Mandalika

ASEAN Rumuskan Profil Pembiayaan Karbon Biru Perdana sebagai Langkah Strategis Ekonomi Biru

Sabtu, 29 November 2025 - 20:23

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN), Pemerintah Jepang, dan United Nations Development Programme (UNDP) menyelenggarakan ASEAN Regional Workshop on Blue Carbon and Finance Profiling pada 27–28 November di Jakarta untuk memperkuat koneksi antara sains dan kebijakan dalam upaya penanganan perubahan iklim di wilayah pesisir dan perairan tawar (Jakarta, 27 November 2025).

Lokakarya yang berlangsung di kantor BAPPENAS ini merupakan bagian dari Proyek ASEAN Blue Carbon and Finance Profiling (ABCF), inisiatif regional yang didanai Pemerintah Jepang dan diimplementasikan oleh UNDP Indonesia bersama ASEAN Coordinating Task Force on Blue Economy (ACTF-BE). Proyek ini mendukung negara-negara ASEAN dalam memahami kondisi serta nilai ekonomi ekosistem pesisir dan e, sehingga dapat merancang kebijakan yang lebih efektif dan meningkatkan akses terhadap pembiayaan untuk perlindungan dan pemulihan ekosistem tersebut.

Sebanyak 30 pakar teknis dari 11 Negara Anggota ASEAN hadir untuk membahas metode pengumpulan data, meninjau pendekatan ilmiah, dan memfinalisasi penyusunan 11 national Blue Carbon Profiles serta 11 national Blue Finance Profiles, lengkap dengan dua profil regional. Profil-profil tersebut dijadwalkan diluncurkan pada Maret 2026 dan akan memberikan panduan bagi pemerintah dalam memahami aset karbon biru, kebutuhan pembiayaan, serta peluang kebijakan untuk memperkuat perlindungan pesisir, strategi iklim, dan investasi di sektor ekonomi biru berkelanjutan.

Ekosistem pesisir seperti mangrove, padang lamun, dan lahan gambut merupakan aset alam bernilai tinggi namun rentan. Ekosistem ini berperan penting dalam menyimpan karbon, mendukung perikanan, melindungi garis pantai dari erosi, serta menjadi sumber mata pencaharian masyarakat pesisir. Namun, tekanan dari alih fungsi lahan, polusi, dan dampak perubahan iklim terus mengancam keberlanjutan ekosistem tersebut. Melalui ABCFP, ASEAN berupaya mengatasi kesenjangan pengetahuan dan pendanaan dengan memetakan potensi ekosistem biru, mengidentifikasi kebijakan pendukung, dan merumuskan jalur pembiayaan publik, swasta, dan inovatif.

Membuka lokakarya atas nama ASEAN sebagai Shepherd ACTF-BE, Dr. Eka Chandra Buana, Deputi Bidang Perencanaan Makro Pembangunan BAPPENAS, menegaskan pentingnya penguatan karbon biru dan pembiayaan biru dalam agenda ekonomi biru ASEAN. “Lokakarya ini menunjukkan bagaimana Negara-Negara Anggota ASEAN dapat bekerja bersama untuk memperkuat basis pengetahuan dan mengembangkan pendekatan yang mendukung pembangunan berkelanjutan di kawasan,” ujarnya.

Dalam sambutannya, Chujo Kazuo, Menteri/Wakil Kepala Misi, Kantor Misi Jepang untuk ASEAN, menegaskan kembali kemitraan strategis Jepang dengan ASEAN serta komitmennya dalam mendukung pembangunan ekonomi biru berkelanjutan. Ia menyampaikan, “Jepang sangat menghargai kolaborasi dengan mitra regional dan para ahli lokal. Kami percaya bahwa keahlian harus berpijak pada pengetahuan lokal dan kebijakan harus dibangun melalui kepemilikan regional.” Ia menambahkan, “Pekerjaan ke depan memang kompleks, namun dampaknya sangat transformatif. Melalui proyek ini, kita mengambil langkah penting untuk melindungi ekosistem vital, memperkuat ketahanan iklim, menciptakan peluang ekonomi berkelanjutan, dan menjaga kemakmuran serta keamanan kawasan.”

Baca Juga :  EVOS GoPay Watch Party Goes to Jogja, Bawa Atmosfer MPL Lebih Dekat ke Komunitas Kota Pelajar

Deputy Resident Representative UNDP Indonesia, Sujala Pant, menyoroti kuatnya kolaborasi regional dalam proses penyusunan profil tersebut. Ia menyampaikan, “Inisiatif ini melibatkan 98 pakar dari 35 lembaga akademik dan penelitian di ASEAN dan Timor-Leste. Komunitas ilmiah sebesar ini sangat penting bagi kawasan, dan jejaring yang terbentuk melalui proses ini diharapkan dapat terus mendukung ACTF-BE dalam menjalankan tugas dan fungsinya.” Ia juga menekankan tujuan utama lokakarya, “Kegiatan ini dirancang sebagai ruang kerja untuk menyempurnakan draft, memperkuat asumsi, serta mengidentifikasi keterkaitan antara analisis karbon dan pembiayaan, sambil memahami pola dan tren di tingkat regional.”

Sepanjang lokakarya, peserta berdiskusi mengenai integrasi data, metode valuasi, dan kerangka pembiayaan untuk memastikan produk akhir menjadi alat praktis bagi pengambilan keputusan nasional dan regional.

ABCFP merupakan bagian dari inisiatif Japan–ASEAN Blue Economy Cooperation yang lebih luas, yang bertujuan memperkuat kolaborasi regional, memperluas solusi iklim berbasis alam, dan mendukung pembangunan ekonomi biru yang inklusif dan tangguh di ASEAN.

Press Release ini juga sudah tayang di VRITIMES

Berita Terkait

Dukung Pemulihan Aset Nasabah di Sentani, BRI Insurance Bayarkan Klaim Rp304,65 Juta 
Satu Pertanyaan “R U OK?” untuk Kesehatan Mental, BINUS SCHOOL Serpong Ajak Komunitas Sekolah Saling Peduli
BP Tapera dan Kementerian PKP Tinjau Kualitas Perumahan di Lampung, Pastikan Hunian Layak dan Nyaman bagi Masyarakat
Dari Jakarta ke New York, PAM JAYA Bawa Prestasi Pengelolaan Air ke Forum Global Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)
Gaji Berhenti Saat Pensiun, Dhiraj Kelly Ingatkan Biaya Hidup Tetap Berjalan
Telkom AI Center Aceh Dorong Akademisi Gunakan AI Secara Etis: “AI Bukan Pengganti Pikiran Manusia”
Menjembatani Kampus dan Industri, FIKOM UNASMAN Perkuat Kompetensi Mahasiswa melalui Studi Banding ke Telkom AI Center
Kementerian UMKM Buka Rantai Pasok Pascabencana: 25 Usaha Mikro Aceh Tembus ke Jaringan Ritel Modern melalui Program KUMITRA

Berita Terkait

Rabu, 23 September 2026 - 09:47

Bank NTB Syariah Bidik KUR Perumahan, 11.061 Rumah Jadi Potensi Baru

Selasa, 22 September 2026 - 21:58

Dari Lombok Timur ke Amerika, Tuna NTB Kian Mendunia

Selasa, 22 September 2026 - 13:16

Video Pengakuan Eks Santriwati Viral, Dinsos P3A NTB Buka Suara

Senin, 21 September 2026 - 19:24

Dua Bulan Puasa Es dan Gorengan, Khairunnisa Sukses Juara MTQ Nasional 2026

Senin, 21 September 2026 - 18:54

PPPK Paruh Waktu Menanti Kepastian Jadi ASN, BKN: Masih Tahap Pematangan

Senin, 21 September 2026 - 17:47

Gemilang di Semarang, NTB Naik ke Peringkat 9 MTQ Nasional

Jumat, 18 September 2026 - 13:16

Alasan Dana Bansos NTB Naik, Kadinsos P3A: Rp36,11 Miliar untuk Desa Berdaya

Kamis, 17 September 2026 - 18:59

Gubernur NTB: Konektivitas Jadi Urat Nadi Pembangunan

Berita Terbaru