Dua Kabupaten Masuk Zona Merah Stunting, Pemprov NTB Lakukan Strategi Khusus - Koran Mandalika

Dua Kabupaten Masuk Zona Merah Stunting, Pemprov NTB Lakukan Strategi Khusus

Senin, 17 November 2025 - 20:01

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Koran Mandalika, Mataram- Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), menggelar persiapan kegiatan rapat koordinasi (rakor) 2025 membahas penanganan stunting di NTB.

Wakil Gubernur NTB, Indah Dhamayanti Putri mengatakan pada rakor nanti akan dilakukan evaluasi terkait capaian di tahun 2025.

“Kita akan melakukan rapat koordinasi untuk mengevaluasi capaian kita di tahun 2025,” kata Umi Dinda sapaan akrabnya, Senin (17/11).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ia membeberkan saat ini di NTB terdapat dua kabupaten yang berada dalam zona merah dan menjadi prioritas Pemprov NTB, yaitu Kabupaten Lombok Timur dan KLU.

Baca Juga :  Bule Pakai Bikini di Rinjani, Begini Tanggapan TNGR

“Karena dua kebupaten itu sekarang dalam zona merah. Tetap akan ada sentuhan untuk kabupaten/kota yang lain tetapi akan lebih banyak intervensi pada dua kabupaten itu,” jelasnya.

Pemprov NTB berencana membuat program “Aksi Orang Tua Asuh” sebagai setrategi penurunan angka stunting di dua kabupaten tersebut.

“Dengan pengawasan pemberian makanan selama 90 hari. Karena memang baru terukur peningkatan berat badan dan sebagainya itu, program ini kita laksanakan selama 90 hari,” ucapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) NTB, Lalu Hamzi Fikri mengatakan salah satu penyebab tingginya angka stunting di dua kabupaten tersebut ialah kurangnya pendampingan.

Baca Juga :  Koordinasi Pemprov NTB dan BNPB: Bantuan Bencana Banjir di Tiga Provinsi Segera Disalurkan

“Analisis SSGI tahun 2024, jadi 54 persen keluarga tidak didampingi. Ini menjadi point penting,” katanya.

Ia menjelaskan kelompok terbanyak yang mengalami stunting pada rentang usia 24-36 bulan, yaitu di angka 35 persen.

“Setelah dia lepas ASI. Inikan biasanya dia masa-masa mendapat MP ASI sebenarnya,” jelasnya.

Selain itu, lanjut Hamzi, permasalahan utama ialah ekonomi keluarga yang rendah.

“Sebagian keluarga resiko stunting merupakan dengan kemiskinan,” imbuhnya. (dik)

Berita Terkait

Bale Kita Hadir di BIZAM, Kerajinan NTB Makin Mendunia
Mandalika Street Food: Dari Keramaian MotoGP Menuju Destinasi Sepanjang Tahun
Bank NTB Syariah Kucurkan Beasiswa Rp111,6 Juta untuk 15 Mahasiswa Unram
Riders MotoGP Diserbu Fans di Mataram, Troy: Lebih Ramai dan Tertib
Marc Marquez Cs Sapa Warga Mataram, Penggemar: Biasanya Cuma Lihat di TV
Semen Langka di NTB, Ternyata Ini Biang Keroknya
Semen Mulai Didistribusikan, Perindag NTB Minta Harga Pengecer Tak Naik
Dari Jalan hingga Pesisir, Gubernur Miq Iqbal Perkuat Akses Warga Sumbawa

Berita Terkait

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 21:02

Wujud Kemanusiaan dan Solidaritas, PTPN Group Salurkan Tali Kasih bagi Keluarga Jurnalis Korban Selat Sunda

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 18:02

Plus Gratisnya dari neobank PLUS: Kuota Gratis Transfer antarbank hingga 200 Kali per Bulan

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 18:02

Jaga Kualitas Infrastruktur, PT JMTM Lanjutkan Pekerjaan SFO dan Rekonstruksi Rigid di Ruas Tol Semarang

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 14:02

Multi-Level BoM Odoo: Rakit Produk Bertingkat Tanpa Salah Komponen

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 13:02

Mulai 9 Oktober, KAI Daop 1 Jakarta Jaga 5 Perlintasan Sebidang di Bekasi dan Tangerang

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 12:20

Motor Impian Makin Dekat, BRI Finance Hadirkan Bunga Mulai 0,7%

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 11:02

Incar Generasi Muda, itel Rilis Jingle “I Tell You” dengan Trio “Jangan Calling”

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 11:02

HP 2 Jutaan Ini Punya 2 Layar, Bisa Selfie Pakai Kamera Utama! Intip Harga dan Spesifikasi itel A300+

Berita Terbaru