Menang Telak di Kasus Tanah Suela, Tergugat Langsung Laporkan Penggugat ke Polisi - Koran Mandalika

Menang Telak di Kasus Tanah Suela, Tergugat Langsung Laporkan Penggugat ke Polisi

Minggu, 30 November 2025 - 09:16

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Koran Mandalika, Lombok Timur – Sengketa tanah di Desa Suela, Lombok Timur, resmi berakhir setelah Pengadilan Negeri Selong menjatuhkan putusan perkara Nomor 66/PDT.G/2025.

Putusan itu menyatakan gugatan Ayuman cs tidak dapat diterima karena dinilai cacat formil, sehingga perkara berhenti di tahap awal dan tidak berlanjut pada pemeriksaan pokok sengketa.

Kuasa hukum tergugat, Ida Royani, menyampaikan bahwa majelis hakim telah melakukan pemeriksaan mendalam sebelum memutus perkara tersebut.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Putusannya keluar pada 28 Oktober, dan majelis tegas menyatakan gugatan tidak dapat diterima setelah seluruh eksepsi yang kami ajukan diuji satu per satu, termasuk soal ketidaktepatan pihak serta objek yang dijadikan dasar gugatan,” ungkapnya.Minggu (30/11/2025).

Ida menjelaskan bahwa putusan tersebut juga membebankan biaya perkara kepada penggugat sebesar Rp2.802.000. Ia menilai langkah itu menunjukkan bahwa struktur gugatan memang tidak memenuhi ketentuan hukum acara, sehingga majelis menutup sidang tanpa memeriksa lebih jauh.

Ia menegaskan mayoritas eksepsi pihaknya diterima sepenuhnya oleh majelis setelah mempertimbangkan kelengkapan unsur gugatan.

“Sekitar 90 persen keberatan kami diterima karena pihak-pihak yang seharusnya dilibatkan tidak dicantumkan, sehingga gugatan secara prosedural memang cacat sejak awal,” jelasnya.

Majelis hakim juga menyoroti absennya BPN Lombok Timur dalam gugatan, padahal perkara langsung bersinggungan dengan keabsahan sertifikat. Narasinya dinilai tidak lengkap karena BPN merupakan lembaga yang berwenang memverifikasi data pertanahan secara resmi.

Ida menegaskan sertifikat yang dipegang warga telah diverifikasi oleh BPN dan dinyatakan sah. Semua sertifikat milik para tergugat sudah dicek di buku tanah dan statusnya terdaftar resmi.

Baca Juga :  Luthfi-Wahid Punya Program Unggulan, Wujudkan Masyarakat Maju dan Harmonis

“Sehingga tidak ada celah untuk membantah keabsahannya,” ucapnya.

Ia kemudian memaparkan sederet ketidaksesuaian data yang tercantum dalam gugatan, termasuk perubahan luas tanah yang dinilainya tidak masuk akal. Data tersebut dianggap tidak menunjukkan ketelitian dan tidak bisa dijadikan dasar sengketa yang serius.

Untuk objek pertama, Ida menjelaskan bahwa luas tanah yang awalnya ditulis 25 are berubah menjadi 2,5 are, sementara hasil pengecekan lapangan hanya menunjukkan sekitar 135 meter persegi.

“Perubahan angka sebesar itu menunjukkan ada masalah serius dalam data yang mereka pakai,” katanya.

Objek kedua pun tidak sesuai dengan data kepemilikan tergugat yang sah. Tergugat memegang SHM Nomor 25 Tahun 1981 seluas 34 are berdasarkan SK Gubernur NTB tahun 1969, sehingga sertifikat tersebut tidak dapat diganggu gugat dari sisi legalitasnya.

Ketidaksesuaian data juga muncul pada objek ketiga yang digugat. Penggugat menulis 89 are, padahal SHM Nomor 817 Tahun 2009 hanya mencantumkan luas 71 are.

“Selisihnya terlalu besar untuk dianggap kekeliruan biasa,” tegas Ida.

Ia turut menyoroti kekacauan identitas dalam surat kuasa yang diajukan penggugat karena beberapa nama tidak sesuai dokumen resmi. Kekeliruan itu membuat hakim meminta penulisan ulang disertai alias agar bisa disesuaikan dengan identitas hukum yang benar.

Menurut Ida, batas waktu banding sudah lewat dua minggu tanpa adanya langkah hukum dari penggugat sehingga putusan inkrah. Situasi itu memberi ruang bagi pihak tergugat untuk membawa persoalan ini ke jalur pidana, terutama menyangkut dugaan penggunaan dokumen yang tidak valid.

Baca Juga :  Rektor IAIH NW: Kita Harus Miliki Kecerdasan Spiritual, Intelektual, dan Digital

Setelah putusan berkekuatan tetap, ia menyebut pihaknya resmi melaporkan dugaan pemalsuan dokumen ke Polres Lombok Timur.

“Karena tidak ada upaya banding atau perlawanan, kami melaporkan dugaan pemalsuan dokumen yang digunakan pihak penggugat dalam gugatan,” ujarnya.

Laporan tersebut menyasar Inisial A beserta anak dan cucunya karena diduga menyerahkan berkas yang tidak sesuai dengan tahun penerbitan sertifikat resmi. Ida menilai ada rekayasa dokumen karena data yang dipakai penggugat berasal dari tahun 1979, sementara sertifikat warga mengacu pada SK Gubernur tahun 1969.

Ia menegaskan bahwa laporan pengaduan itu masuk ke Polres Lombok Timur pada 14 November, setelah masa banding berakhir dan tidak ada perlawanan lanjutan.

“Kami ingin persoalan selesai bersih agar tidak berkembang menjadi konflik baru di wilayah Suela,” tutupnya.

Sementara itu Perwakilan pihak tergugat, Ayu, menyampaikan bahwa kemenangan perkara tersebut menjadi penegasan bahwa proses hukum yang mereka jalani berjalan sesuai aturan.

Ia menjelaskan bahwa kehadiran kuasa hukum Ida Royani memberi mereka ruang lebih luas untuk membuktikan duduk perkara secara objektif di hadapan majelis hakim sehingga putusan dapat diterima tanpa keberatan.

“Sebelumnya, kami dari selaku klien mengucapkan terima kasih kepada Ibu Ida Royani yang telah membela kami untuk mencari keadilan sehingga kami bisa memenangkan perkara ini. Saya berharap ke depan tidak ada masalah lagi, dan saya berterima kasih kepada PN Selong karena sudah adil serta transparan dalam bekerja,” ujar Ayu. (*)

Berita Terkait

Uang Rp50 Ribu Jadi Umpan, 7 Anak Jonggat Diduga Jadi Korban
Korupsi Pengadaan Dump Truck dan Arm Roll DLH Lombok Tengah, Empat Tersangka Resmi Ditahan
Hutang Berujung Maut, Penyidik Satreskrim Polresta Mataram Tetapkan Satu Tersangka
Ahli Pidana dari JPU Sebut Pasal Gratifikasi Tidak Bisa Menjerat Pemberi
Suliadi Protes Tuntutan Berat Kasus Sewa Tower: Saya Hanya Warga Biasa
Sekda Lombok Tengah Jadi Saksi, Jaksa Dalami Dugaan Korupsi Dump Truck
Sekda Lombok Tengah Dipanggil Jaksa, Pemeriksaan Berkaitan dengan Kasus Dump Truck?
Personel Berprestasi Diguyur Penghargaan, Kapolres Lombok Tengah: Jangan Cepat Puas!

Berita Terkait

Rabu, 12 Agustus 2026 - 17:04

Pastikan Kerukunan Umat Beragama di NTB, Gus Miftah Kunjungi Gereja Santa Maria Mataram

Selasa, 11 Agustus 2026 - 19:04

Pemprov NTB dan Komisi VII Perkuat Sinergi Dorong Transformasi Ekonomi Daerah

Selasa, 11 Agustus 2026 - 15:24

Sekda NTB Buka Suara Soal Isu Defisit Anggaran Rp300 Miliar, Pastikan Nasib ASN

Minggu, 9 Agustus 2026 - 13:32

Jangan Biarkan Risiko Mengendalikan Pemerintah

Kamis, 6 Agustus 2026 - 19:43

NTB Selangkah Lagi Terapkan Sistem Manajemen Talenta ASN

Selasa, 4 Agustus 2026 - 07:36

Pembukaan Pelatihan Magang ke Jepang 2026, Gubernur Iqbal Tekankan Etos Kerja Tinggi

Senin, 3 Agustus 2026 - 12:20

20 Warga Masbagik Terima Bantuan Ayam Petelur, Bank NTB Syariah Perkuat Ekonomi Desa

Senin, 3 Agustus 2026 - 10:16

IFW 2026, Wagub NTB Tampil Memukau dengan Busana Tenun Daerah

Berita Terbaru